Apa itu akhir dari tanda kemerdekaan?
Suatu penanda ironi yang menandai bagaimana cara kita mampu menghindari ‘pengulangan perayaan (kemerdekaan)’. Filsuf dan sejarawan tidak jarang menggunakan “kaca mata” sejarah pemikiran yang digambarkan ulang kekuatannya. Maka setiap konsep yang dilahirkan adalah bagian dari mata rantai ‘diskursus’ kepahlawanan dan petualangannya yang eksentrik kadangkala bertentangan dengan ‘logika baru dari pengulangan’.
Seluruh pergerakan penanda ironi dibalik tanda kemerdekaan menyatu dengan logika pengulangan retorika. ‘Kemerdekaan untuk semua’ dari ketidakmerdekaan. Oh, wajah-wajah pucat, maka tersenyumlah! Akhirnya, izin bestie! Saya menghitung. Tujuh belas, Agustus, Dua, Ribu, Dua, Tiga. Momen nestapa adalah momen tanda bagi wajah-wajah pucat orang miskin.
Untuk bestie. Siapakah yang menikmati kemerdekaan? Lapisan masyarakat apakah yang menjaga toleransi? Siapakah yang menumpuk kekayaan dan memperkaya diri? Sejauh manakah mayoritas melindungi minoritas? Mampukah kita memberantas korupsi yang merajalela hingga ke akar-akarnya? Semuanya itu menjadi ‘tanda tanya besar’ bertubi-tubi yang menandai setiap proses penerimaan dan pemisahan tanda-tanda kemerdekaan tanpa syarat yang digambarkan atau dituliskan kembali di hadapan kita.
Sang Merdeka? Si Daulat? Bagaimana bestie?
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI