Seraya duduk aku menjawab "Oh ya Bu makasih, Ehm, Bapaknya ada Bu?" Tanyaku.
"Tunggu...." jawabnya seraya berjalan ke arah ruangan lain.
"Oh iya, Bu...."
Mataku menjelajahi seisi ruangan. Tampak beberapa foto keluarga terpampang. Ternyata dugaanku benar, ibu yang tadi kutemui adalah istrinya pak Ridwan. Tadinya aku ragu, karena Sikapnya sangat aneh dan kaku, raut wajahnya juga nampak sangat pucat.
"Apa beliau sedang sakit ya..... atau....?Ah udahlah jangan mikir yang aneh-aneh!"Â
Aku mencoba mengendalikan pikiranku agar tetap tenang.
Hampir 30 menit aku menunggu diruangan itu namun Pak Ridwan tak kunjung keluar. Aku merasa canggung berada sendirian diruangan kosong yang auranya sangat menyeramkan itu.
Apa istrinya pak Ridwan tadi, tidak memberi tahunya kalau aku datang ya?
Lalu aku pun memutuskan untuk menghubungi Pak Ridwan. Aku merogoh Hpku didalam tas. Ada beberapa notif pesan yang masuk. Namun belum sempat aku membukanya, Ibu tadi kembali datang menghampiriku. Kali ini ia tampak membawakan segelas minuman.
"Minum..." ujarnya seraya menyodorkan secangkir minuman yang nampak seperti sirup berwarna merah. Aku langsung menyanggahnya.
"Oh ya makasih Bu!" Aku menyeruput sedikit. Ada aroma bunga dalam minuman itu yang asing bagiku. Entah sirup atau teh jenis apa, rasanya sangat aneh. Ibu itu terus memperhatikanku, membuatku semakin gugup. Kucoba mencairkan suasana dengan membuka pembicaraan "Enak banget bu tehnya!" ujarku basa basi.