"Kamu udah berkorban banyak. Aku tau tabungan kamu sampai hampir habis karena maksain diri mau ngasih pesangon yang lumayan banyak, biar mereka bisa punya bekal sementara buat melanjutkan hidup. Aku tau kamu masih rajin memantau kondisi mereka semua lewat sosial media, memastikan semua yang bekerja denganmu sehat dan terjaga. Aku tau kamu juga masih suka kirimin makanan atau hasil eksperimenmu, meminta saran dan masukan padahal mereka bukan siapa-siapa."
Manik kelabu Nathan melebar dengar tutur panjang dari Yosua. Ia tidak menyangka dibalik fasad Yosua yang begitu acuh tak acuh dan kaku, lelaki itu memerhatikan tiap detil gerak-geriknya dalam diam, tanpa interupsi.
Yosua tersenyum, tangannya menepuk lalu mengelus punggung lebar Nathan, menenangkan dirinya yang tengah kacau.
"Aku tau kamu sudah melakukan yang terbaik sebisa kamu. Terima kasih."
Rasanya Nathan ingin menangis lagi dengar apresiasi Yosua yang muncul dari hati.
Pagi itu di balkon apartemen Yosua, berlatar langit Jakarta di musim panas dan hembusan angin dari timur yang menyejukkan, dengan wajah polos Yosua yang dibias sempurna oleh matahari pagi penuhi lanskapnya, Nathan jatuh cinta.
Yosua tengah membaca buku ketika Nathan memasak nasi goreng untuk sarapan mereka. Sebuah pemandangan pagi hari selama lima bulan terakhir yang baginya kini terasa hangat dan familiar. Aroma bumbu mengudara di sepanjang apartemen, membuat perutnya mengerang lapar.
Tidak lagi fokus membaca, Yosua memilih berjalan menghampiri lelaki berambut abu yang kini asyik menggoreng nasi. Ekspresinya terlihat begitu hidup bila tengah memasak. Pemandangan yang diam-diam menjadi favoritnya.
"Than, hari ini ke kedai?"
Nathan meliriknya sekilas sebelum mengusap pelipisnya yang sedikit berkeringat karena terpapar panas kompor.
"Iya, cuma sejam-dua jam aja, soalnya buat pengawasan rutin."