Dengan membangun industri alat berat, bahan baku ,bahan bakar dan energi  yang terintegratif juga penerapan politik industri berbasis industri berat dalam sistem industrinya, maka industri pesawat terbang akan mandiri dan bisa diakses oleh semua kalangan masyarakat bahkan gratis karena mesin-mesin untuk menciptakan pesawat dan produk akhirnya yaitu pesawat bisa diproduksi oleh putra bangsa.
 Putra-putra bangsa Indonesia di bawah naungan PT Dirgantara Indonesia terbukti mampu membuat pesawat terbang yang dibutuhkan untuk moda transportasi penerbangan antar pulau (pembuatan pesawat terbang N-250, CN-212, CN-235).Â
Bahan bakar pun mulai dari hulu sampai hilir dikuasai negara sehingga bahan bakar minyak penerbangan tidak menjadi beban operasional maskapai plat merah karena sama-sama diproduki oleh BUMN yg state based management.Â
Hari ini berdasarkan paradigma batil neolib dibenarkan negara menyerahkan blok-blok migas tersebut pada korporasi baik domestik maupun asing kafir penjajah, semua itu bertentangan dengan syariat Islam. Bahkan, negaralah yang bertanggungjawab langsung dan sepenuhnya sebagai pengelola sehingga dapat dirasakan manfaatnya oleh publik. Indonesia sudah memiliki teknologi refinery (kilang pengolahan minyak bumi) untuk memproduksi avtur.
 Optimalisasi kilang Plaju dan Cilacap terbukti mampu memenuhi kebutuhan avtur dalam negeri. Para teknokrat yang memadai sudah dimiliki Indonesia dan mampu mandiri memproduksi avtur dalam jumlah memadai bagi terwujudnya transportasi udara murah/gratis bagi semua orang.
Masalah skill juga tidak perlu diragukan. Keberhasilan pembuatan pesawat terbang N-250, CN-212, CN-235 ini menjadi bukti peluang putri-putri bangsa ini mampu menguasai berbagai teknologi terkini kedirgantaraan. Kemandirian teknologi dirgantara dengan berbagai aplikasinya seperti pesawat terbang, teknologi navigasi dan komunikasi, serta bandar udara berikut segala fasilitasnya Indonesia terbukti bisa.
Dengan motivasi ideologis yang kuat , teknologi aeronautika pasti dapat dikuasai kembali oleh kaum Muslimin. Motif ideologis harus menjadi motif utama, baru setelahnya motif ekonomi dan sains. Tanpa motif ideologis, teknologi bahkan industri pesawat terbang yang telah dimiliki dapat dengan mudah digadaikan atau dijual ke asing demi membayar utang luar negeri yang tidak seberapa. Dan karena ketiadaan negara Islam yang ideologis ini, kini ribuan ahli aeronautika Muslim terpaksa berkarir di negeri-negeri kafir penjajah.
Pada akhirnya, terbang murah hingga nol rupiah secara aman, berkualitas, tanpa tergantung asing benar-benar bisa terwujud, bahkan negara berkewajiban mewujudkannnya. Semua aspek ini bisa dipenuhi negara yang visioner dan dengan fungsi-fungsi politiknya yang sahih. Yakni, negara Khilafah.
 "Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila Dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu,.."
(TQS Al Anfaal: 24)
Tresna Dewi Kharisma (ibu 2 anak, aktivis muslimah)
Referensi:Â