Puanku datang, bawakan satu botol air hangat lengkap dengan sebuah alat ukur suhu tubuh.
"Demam kan? Keliatan dari mata nya" sungguh pengamat tanpa ucap. Ia tempelkan alat itu pada dahiku. Dahi yang biasa simpan kerutan asa sejak remaja.
"Al? 38,9?" sudah lama tak kudengar khawatirnya. Cukup senang walau ikut tak tenang.
Aku makan satu pil obat pereda demam. Setelahnya, Ia sarankanku lekas lelap. Katanya jangan kalut terus larut. Bisa ancam kesehatan. Aku patuh sebab aku harus. Bahkan sejak sebelum lahir, aku sudah janji untuk terus turut.
Aku berpura lelap hingga ia tinggalkan kamarku. Setelah memastikan semua aman, aku terduduk memposisikan tubuhku layak tertopang tembok. Sedikit takut kalau boleh jujur.
Aku sakit apa?
Demam biasa bukan?
Tahan berapa lama?
Bukan virus tak tahu arus yang banyak terus, kan?
Kuteguk tak sadar air bening pahit yang dibawakan tadi.
"Yah, memahit" ucapku dalam diam.