Pembelajaran jarak jauh. Bukan hal hina sebetulnya. Tapi jujur saja, kurang sudi akuinya. Tuhan, bagaimana tidak? Wujud temanku jadi virtual semua. Tak jarang hanya tampilkan layar hitam dan sebuah nama. Bosankan yang lihat.
"Cukup ya buat hari ini. Jangan lupa selalu bahagia juga sehat!"
Sehat. Kata sakral tiga tahun belakangan. Agaknya aneh kalau tak bawakan kata itu di penghujung kalimat penutup masa sekarang. Satu dari banyak miliar, insan ambil sehat. Banyak harapan dari sebuah kata sakral terlontar. Satu insan harapkan sehat yang paling sehat bagi orang-orang sehat. Insan lain harapkan sehat untuk dirinya sendiri sebab dikelilingi orang-orang kurang sehat. Sedang banyak insan pun harapkan dirinya lekas sehat dari segala bentuk tidak sehat lainnya.
Tapi maaf. Juni tertanggal dua puluh lima, tahun dua satu, ada yang telah gagal jaga suci dari kata itu.
"Kenapa, Al?" heran lihat anaknya hampiri dan hamburkan isi kotak obat.
"Cari obat yang bisa cegah demam"
"Kamu demam?"
"Sedikit lagi, hampir. Paling nanti malam"
Entah firasat atau bahkan omongan yang terlanjur jadi do'a, malamnya suhu tinggi mendekat. Ia memeluk. Pelukan jahat. Yang bikin aku tak lepas hingga tujuh purnama.
Malam itu, layak hari lain, aku tidur sendiri. Dalam kamar yang cukup penuh sesak kenang. Sumpah, serapah, rapalan melekat di tiap sudut fasad simetris. Langit-langit pun tergantung asal banyak angan. Sebagian sudah abu pucat. Beberapa masih terang sinar. Entah lupa redup atau mungkin tak bisa redup, atau bahkan mungkin pijarkan sinar palsu tak palsu. Semua normal, layak biasa. Yang tak normal hanya suhu badanku. Pipi merona bukan sebab pria goda. Tapi perubahan sinting suhu drastis buat miris.
"Mam?" lirihku harap bantuan.