Ya masseeh ngilmiah dong, Nggo. Payyah sampeyan. Boon-toot cicak kan beessa toom-booh joog-ga kalau poot-toos , tak iye? – balas George.
.
Coonty sangat terganggu obrolan para pekerja itu. Padahal informasi ini belum tentu valid. Nah, sejak hari itulah ia gemar ngomel, overacting. Ia agaknya tak memiliki kepasrahan seperti makhluk-makhluk penghuni pohon nangka lainnya. Burung hantu telah menyerahkan dirinya kepada undian nasib dari Alam. Kalau ditebang pun toh aku bisa pindah sarang ke Gunung Pancar, pikirnya, dan malah enak bisa saban hari nonton para ABG pacaran dengan militan. Ular pucuk hijau juga santai-santai saja. Dia bisa migrasi ke semak mana pun di kawasan tersebut. Aku mensyukuri apa yang ada saja, toh rezeki tak lari ke mana, kata ular yang saleh ini. Hanya Coonty yang tak terima.
Ia mulai menganggap semua orang yang melintasi jalanan itu sebagai seteru. Pokoknya manusia selamanya jahat. Ke-laut-aja praduga tak bersalah, batinnya. Maka ia menyusun strategi psywar kepada umat manusia.
.
Subuh-subuh, seorang loper koran yang lewat jalan itu dicegatnya. Coonty berdiri di tengah jalan, mematung bagai aparat razia dan menyeringai dengan mimik sangat mengerikan. Senyumnya lebar, dari kuping ke kuping. “Selamat pagi, Pahlawan Informasi. Hihihihihi.”
Si loper koran tersirap darahnya dan berseru kencang sekali. “Babiii! Ada setaaan!!” Lalu ia berbalik arah dan kabur dengan kecepatan melebihi diare. Coonty tersinggung sekali diumpat begitu. Ingin rasanya menendang bokong, namun si loper itu raib tak kembali-kembali lagi. Sampai-sampai koran hari itu tak diantarnya ke pelanggan, dan Sentul City menderita malinformasi. Si loper gemetaran di rumahnya untuk 2 X 24 jam. Emaknya tak henti-henti membacakan Ayat Kursi.
.
Esoknya giliran seorang guru karate tak berdosa yang dikerjainya. Malam hari pukul 22.00, sepulang dari sasana, ia mengendarai mobilnya pelan-pelan di jalanan itu. Tiba-tiba saja di luar kaca depan tampak sepasang kaki kurus menjuntai. Coonty bertengger di atas kabin dan menggoyang-goyangkan kakinya dengan gerakan pedal tukang jahit. Si guru karate mengira seorang anak kecil iseng memanjat dan menumpang mobilnya sejak dari sasana tadi. Ia pun menghentikan laju kendaraannya dan keluar, hendak menurunkan si anak nakal.
Namun betapa terkejutnya sang guru karate ketika dilihatnya sosok bergaun putih yang nangkring di kap mobilnya ini punya wajah rata. Tanpa hidung, tanpa mata, hanya seringai dari kuping ke kuping. Muka Coonty putih polos seperti dinding gardu ronda. Coonty yang sedang bermimikri jadi labur tembok itu bersuara dengan syahdu, “Mas, hihihihi...latih saya dong...saya masih sabuk hijau lho, hihihihihi...” Rupanya si ular hijau itu tengah ia pekerjakan sebagai aksesori.
Sontak guru karate itu meraung membahana, “Aramaaak, kuntiranak ronthe buruk siaraaan! Banzaaai!!” Ia ambil jurus kaki seribu dengan kecepatan mach 2, meninggalkan begitu saja mobilnya dengan pintu menganga. Esok paginya para penduduk menemukan sedan tersebut mengonggok tanpa roda. Spion, setir, dashboard, sabuk dan kursinya juga telah lenyap terpulung orang. Menjelang ludes seperti Papua dirampok Amerika.