"Jaman semakin modern tapi kesyirikan masih mengental".
Hud-hud kebingungan mau hinggap dimana. Kepak sayapnya berhenti pada tumpukan barang dipinggir kandang. Pengasuhku terganggu, "Burung stres!" . Ia mengusirnya sebelum langkahnya menuju warung angkringan.
"Kyai, kerabatmu nun jauh disana juga pernah dimanfaatkan manusia. Terakhir diajak demontrasi"
Aku merebahkan diri ketanah. Hud-hud mendekati. Matahari makin bergerak ke barat. Sore mulai menjelang. Tanah lapang kian dipadati orang-orang.
"Kyai adalah produk jahilliyah modern"
"Sekali lagi aku katakan, itu bukan salahku. Biar mereka yang menanggung dosanya"
"Tapi kyai-kan punya otoritas. Badan besar dengan tanduk melengkung tajam bisa digunakan untuk menghentikan praktek-praktek syirik yang menempel dan ditempelkan pada kyai. Jangan mau dikirab! Kyai akan dihisap nantinya di akherat".
Sebenarnya aku sedih juga melihat kelakuan manusia. Ritual kebudayaan dijadikan selubung untuk mensuburkan tradisi jahilliyah itu. Semua yang bersentuhan denganku diperebutkan. Air bekas aku mandi, liur dari mulut sampai kotoranku dijarah, dijadikan semacam azimat(sesuatu yang mustajab).
Menjelang 1 suro, ulama-ulama sekotaku giat melancarkan perang urat syaraf. Menghimbau para jama'ah serta masyarakat jangan menonton aku. Telah terjadi pembalikkan.
"Sampai kapan kyai dikultuskan?". Ocehannya makin menggangguku dengan kalimat sarkasme. "Lihat kelakuan pengasuhmu". Burung itu memaksaku untuk menatap pria yang sedang nongkrong di angkringan dekat situ. Makan, minum, merokok,....
"Uang yang dipakai pemberian pria bermobil. Seharusnya untuk dibelikan sayuran buat kyai. Itu yang dinamakan baik? Manipulatif koruptif!"