BUGHH.....Â
Kedua mataku seketika membulat kaget, karena setelah di tabrak bukannya aku terjatuh tapi perawat itu malah menembus badanku. Apakah aku sudah mati dan menjadi arwah sehingga mereka dapat menembus ku begitu saja? Raut wajahku terlihat sangat panik, hal ini membuat Ali tertawa terbahak-bahak.
Hanya Ali yang terlihat biasa saja sementara raib yang melihat kejadian itu pun terlihat ketakutan. Ia mengulurkan tangannya mencoba untuk menembus tembok, apakah bisa? Ternyata memang bisa.Â
"Apakah kita sudah mati?" Tanya Raib mewakilkan pertanyaan di otakku.Â
"Hahaha, apa kalian lupa? Kita kan berbentuk jiwa, wajar saja jika mereka menembus kita dan kita dapat menembus apapun. Tenang saja, kita tidak mati kok. Raga kita aman disana."
TEET... TEET.... TEET....Â
Tiba-tiba suara seperti alarm terdengar dari jam tangan Raib, ia yang masih memasang wajah ketakutan mendengar itu menjadi tambah panik. Grafik yang ada di jam tangannya yang mula-mula stabil dan berwarna hijau berubah menjadi berwarna merah dan pergerakannya pun sangat agresif.Â
Ali buru-buru menghampiri Raib, "Raib tenanglah! Jangan panik! Kau harus tetap menjaga kestabilan grafiknya, tenangkan dirimu Raib."
"A-aaku tidak bisa Ali, aku takut!"
Aku melirik sekilas jam tanganku juga, warnanya orange dan grafiknya hampir tidak stabil. Aku mulai mengatur napas agar tidak panik. Setelah aku merasa tenang, akhirnya grafik jamku stabil dan berwarna hijau. Aku pun ikut membantu Ali untuk menenangkan Raib yang terlihat masih ketakutan.Â
"Raib! Lihat aku! Tarik napasmu-buang, tarik napasmu-buang, sekali lagi tarik napas-buang." Raib mengikuti arahanmu, ia sekarang sudah tampak lebih relax.Â