Mohon tunggu...
Nugraha Wasistha
Nugraha Wasistha Mohon Tunggu... Penulis - Penulis lepas

Penggemar bacaan dan tontonan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Amuk Hayam Wuruk

8 Agustus 2021   11:11 Diperbarui: 25 Agustus 2021   10:31 1390
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar diolah dari Wallpaper Tip

Senopati Angkrang memegang bahu Maharaja muda tersebut. Sikapnya bak seorang bapak yang bersedia berkorban buat sang anak. "Tidak. Gusti Prabu tunggu saja di sini. Biar hamba yang menangani. Gajah Mada mungkin bisa menembus sampai ke dalam benteng, tapi Gusti tak perlu khawatir. Hamba punya kejutan untuknya."

Hayam Wuruk kelihatan ragu, tapi akhirnya mengangguk. Dia tetap berdiri diam saat Senopati Angkrang berlari menuju bagian depan benteng. Terdengar suara pedang saling beradu di sana. Sepertinya pengawal pribadinya itu benar. Gajah Mada sudah berada di dalam. Bangsat itu benar-benar prajurit pilih tanding!

Kesimpulan itu membuat Hayam Wuruk berubah pikiran. Dia memutuskan untuk menyusul Senopati Angkrang. Menghampiri sumber keributan. Suara perkelahian tak lagi terdengar, digantikan teriakan-teriakan. Dia melihat sosok besar menyudutkan Senopati Angkrang dengan sebilah keris teracung.

"Berhenti!"

Seruannya mengejutkan sosok besar yang ternyata Gajah Mada. Dia nampak terkejut melihat kehadirannya, sampai-sampai melupakan Senopati Angkrang yang masih dia cengkeram.

"Selamat datang, Ayah," kata Hayam Wuruk dengan nada sinis. "Ya, aku tahu kau adalah ayahku. Dan aku juga tahu kenapa kau menutupinya. Senopati Angkrang telah menjelaskan semua. Kau menutupi karena kau tak menyayangiku. Seperti kau tak benar-benar mencintai ibunda Ratu Tunggadewi. Bagimu, kami hanya alat untuk menggapai hasratmu akan tahta."

"Dengar," kata Gajah Mada, seraya melepaskan Senopati Angkrang, "Memang salahku tak pernah memberi tahu dirimu. Tapi aku melakukannya bukan karena tak menyayangi dirimu. Justru sebaliknya. Aku...aku tak punya nyali menikahi seorang ratu. Dirimu pantas memiliki ayah yang sederajat dengan ibumu. Bukan yang derajatnya rendah seperti aku."

Hayam Wuruk terdiam sesaat sebelum berkata, "Jadi kau benar-benar menyayangiku? Seperti wajarnya seorang ayah menyayangi putranya?"

"Aku menyayangimu lebih dari nyawaku sendiri," sahut Gajah Mada - hampir-hampir tanpa menyadarinya.

"Kalau begitu berikan keris itu padaku," sambar Hayam Wuruk tegas.

Gajah Mada nampak ragu sejenak. Tapi akhirnya diberikan juga keris itu pada Hayam Wuruk - yang kemudian mengacungkannya tinggi-tinggi seraya berkata, "Ingat saat kau mengajariku dulu tentang bagian-bagian tubuh yang paling tepat untuk ditikam dengan keris?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun