Pertanyaan bernada simpatik ia hiraukan. Bunda Manda dan Opa Hilarius mengajarinya untuk tidak berkontak dengan orang asing. Silvi menangis, terus menangis.
Dari pantulan kabut air matanya, ia melihat kilauan silver. Kilau keperakan yang tertangkap netranya berasal dari sebuah mobil yang baru saja menikung di belokan. Mobil? Mobil silver? Mungkinkah...?
Ayah Calvin datang!
Pria berjas biru gelap itu turun dari mobil. Lengannya membuka dalam pelukan hangat. Dipeluknya Silvi erat-erat. Silvi mengisak hebat di dada Ayahnya.
"It's ok, Darling. I'm here." Ayah Calvin berbisik, membelai lembut rambut Silvi.
Mobil melaju menembus derasnya hujan. Ruas jalan tergenang air. Ayah Calvin membawa Silvi ke sebuah restoran. Tangis Silvi mereda setiba di restoran mewah itu.
Interiornya yang elegan memukau mata Silvi. Lampu gantung menebarkan cahaya lembut. Pot kristal berisi bunga-bunga hidup. Sofa empuk berwarna coklat. Meja terracotta yang tertata apik. Ayah Calvin membacakan menu untuk Silvi. Sabar menunggu putrinya menjatuhkan pilihan.
Dua porsi salad segar, chicken cordon bleu, strawberry shortcake, dan dua gelas coklat hangat tersaji. Tangan Silvi gemetar hebat hingga ia kesulitan memotong ayamnya. Ayah Calvin menyuapi Silvi. Sambil menyuapkan potongan-potongan ayam, pria itu bertanya.
"Silvi mau homeschooling nggak? Nanti Silvi belajar sama Ayah. Silvi nggak perlu ke sekolah lagi."
Sesaat gadis berambut panjang itu berpikir keras. Mempertimbangkan tawaran itu. Belajar dengan Ayah? Bukan ide yang buruk.
"Mau. Nanti kita sama-sama terus ya, Ayah."