Malam merambat menuju dini hari. Ketika malam hampir habis, Ayah Calvin tak membantu Bunda Manda menyiapkan menu katering. Bukan, bukan karena masih marah. Tetapi karena tubuhnya melemah.
Alarm biologis menuntunnya bangun pukul empat pagi seperti biasa. Namun, jam biologis tak datang sendirian.
"Selamat pagi Ayah," sapa Silvi dengan pillow facenya.
Sapaan itu tak berbalas. Pelukan justru merenggang. Terburu-buru Ayah Calvin meninggalkan Silvi. Merasa ada yang ganjil, anak cantik itu bergegas menyusul.
Wastafel menganga mengucurkan air. Beberapa kali Ayah Calvin terbatuk. Noda merah yang keluar bersama dahak itu...
"Kamu sakit?"
Dari arah dapur, Bunda Manda menghampiri. Tak bisa menahan desakan kepedulian dalam dirinya. Ia langsung tahu suaminya sakit lagi sekali lihat saja. Terlalu dalam Bunda Manda mengenal Ayah Calvin.
"Nope. I'm ok," jawab Ayah Calvin serak. Ia berdeham lalu meneruskan.
"Ayo kubantu memasak. Kamu..."
"Mau ke dokter?" potong Bunda Manda dingin.
Sikap istrinya yang sedikit melunak membuncahkan rasa hangat di dada Ayah Calvin. Ia menggeleng pelan. Masih ada obat batuk yang diresepkan dokternya. Tersisa sebersit cemas dalam pikiran Bunda Manda. Tak semua obat flu atau obat batuk aman untuk pria yang belum pergi dari relung hatinya. Oh, sebegitu hafal Bunda Manda semua tentang Ayah Calvin.