"Saya nggak punya WA. Di Seminari, kami hanya punya satu HP. Kami menyebutnya HP angkatan. HP itu hanya digunakan kalau ada keperluan sangat penting, pakainya pun harus bergiliran."
Oh, aku paham. Ternyata Frater Gabriel bukannya tak mau memberi nomor WA, tapi karena dia tak punya.
"Ok, nggak apa-apa. Kalau alamat e-mail ada?"
"Ada. Saya tuliskan ya."
Hatiku melonjak girang. Yes, paling tidak aku punya kontak Frater Gabriel.
Sambil menunggu kedatangan calon pengurus OSIS yang lain, kami mengobrol. Aku bertanya mengapa gaya hidup di Seminari begitu aneh. HP saja hanya boleh ada satu di angkatan. Jawaban Frater Gabriel sungguh membuatku tercengang.
"HP itu barang duniawi. Seminari mendidik para calon Pastor untuk tidak terikat dengan hal-hal keduniaan. Kami hanya boleh bersandar pada Tuhan."
Obrolan kami terputus. Aku mengantongi segulung kertas berisi alamat e-mail. Frater Gabriel mulai memberi penjelasan pada kami tentang LKO (Latihan Kepemimpinan OSIS) yang akan diadakan Sabtu depan. Aku mendengarkan dan mencatat semua barang yang harus dibawa tanpa terlewat satu pun.
** Â Â
Hari sudah sore. SUV hitam yang membawaku berbelok ke halaman rumah super luas. Aku melompat turun, dan berlari masuk.
Kosong. Rumahku sesunyi mausoleum. Papa dan Ayah tak kutemukan. Aku mencari-cari di ruang tamu, ruang santai, ruang makan, kedelapan kamar tidur, garasi, dan kolam renang. Kumasuki paviliun. Sama saja. Hanya keheningan yang menyambutku.