Dinda mengangkat satu alisnya. Entah ini hanya perasaan Calvin atau bukan, sekilas tertangkap sorot kekecewaan di mata Dinda. Seolah ia masih tak terima bersatunya kembali Calvin dan Calisa.
"Calvin, ingat siapa aku? Aku, Dinda Pertiwi, sahabat masa kecilmu. Akulah yang lebih dulu datang ke dalam kehidupanmu dan menyayangimu." Dinda berucap perlahan.
"Kamu memang yang pertama, tapi Calisa yang terakhir. Yang pertama belum tentu menjadi yang terakhir. Sebaliknya, yang terakhir selalu dan selamanya dicintai." Calvin menanggapi, sabar dan penuh wibawa.
"Wait...memangnya Calisa mau menerimamu lagi?" sela Marla dingin.
"Apa maksudmu?"
"Calisa tahu kondisimu, kan? Kalian tidak akan punya keturunan...lebih tepatnya, kamu yang tidak bisa memberi keturunan lagi."
"Jika aku ada di posisi Calisa, aku takkan keberatan. Menerima adalah bagian dari mencintai," Tanpa diduga, Naftalia berkata bijak. Menatap Calvin lembut. Naftalia seorang psikolog. Wajar jika dirinya mudah memahami keadaan orang lain.
"Thanks Naftalia. Penerimaan dan cinta Calisa sudah cukup. Aku tak menginginkan cinta yang lain."
Di posisinya, Calisa terhenyak. Begitulah cara Calvin merespon wanita-wanita cantik itu. Calvin tetap memilihnya. Menutup celah bagi mereka untuk masuk lagi dalam kehidupannya. Pintu hatinya hanya terbuka untuk Calisa. Tanpa terasa, dua titik bening jatuh di pelupuk mata.
Selesai acara, Calisa mengajak Calvin bicara. Bergegas ke halaman belakang villa, keduanya mulai saling membuka diri. Calvin dan Calisa bertautan tangan. Saling tatap penuh arti.
"Tadi Marla menyinggung soal infertilitas sekunder secara tersirat," Calisa angkat bicara, sehati-hati mungkin demi menjaga perasaan suaminya.