Mohon tunggu...
Kimi Raikko
Kimi Raikko Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Just Another Days In Paradise \r\n\r\n \r\n\r\n\r\n \r\n\r\n

Selanjutnya

Tutup

Puisi

[MPK] Beib dan Surat-surat di Tahun 2073

10 Juni 2011   13:04 Diperbarui: 26 Juni 2015   04:39 281
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Kenapa kau panggil aku begitu?”

Entah, hujan yang menggerakkan bibirku. Kamulah beibku. Tapi bagaimana bisa?”

Aku sendiri terheran-heran. Apa hubungannya hujan, yang akan tiada saat habis musimnya, dengan kita? Beib?

Di kepalaku bertebaran potongan-potongan kisah, berantakan berkeping-keping bagai cermin pecah. Aku, kamu, hujan. Sedikit tersusun mozaik itu.

Kamu beranjak dari kursi goyang, matamu tajam menatapku. Lalu menuju lemari tua tempat segala awal keresahan ini muncul. Dengan semangat yang terasa muda, kamu membongkar daun pintu lemari, melepas potongan papan di dasarnya. Aku mengikuti dengan pandangan heran. Sekejap aku ternganga saat kautemukan sebuah dompet kulit. Dari dalamnya ada beberapa lipat kertas kuning lusuh.

Dengan tangan bergetar kamu bersiap membuka selembar lipatan kertas itu. Alis matamu bergerak-gerak, menyuruhku mendekati. Sebentar, aku berlari kecil mengambilkan kacamatamu dan menggunakan kacamataku juga.

Sesuatu terjatuh saat membuka lipatan surat itu. Ada beberapa foto berukuran kecil, dan sebuah foto sepasang mempelai yang terlihat berpelukan dengan bahagia. Tertanggal 5 Desember 2011. Dengan menahan nafas kita memandangi foto-foto itu, lalu beralih ke surat itu.

Kutulis sepucuk surat yang tercipta pada musim semi ini, sebagai penanda, bahwa suatu saat nanti, kelak di suatu waktu, dimana tidak ada lagi fajar menyingsing, tidak ada lagi senja dan tidak ada lagi malam. Kita akan kembali bertemu lagi.

Di suatu masa, di suatu ketika, di masa depan, ketika tidak ada lagi senja, tidak ada lagi pagi dan tidak ada lagi malam.Aku ingin mengantar surat ini kepadamu, sebagai bentuk sikap batinku untukmu.Di suatu saat, di suatu ketika, di suatu peristiwa di masa depan, dalam suatu dimensi yang private, aku ingin kamu membaca surat ini.

Jika ada terlukis perasaan rindu yang sangat, yang terselip dalam surat ini yang engkau temukan dalam deretan kata-kata yang tercipta pada musim semi yang sempurna ini, biarlah dia terungkap dan terbaca apa adanya.

Jika kata demi kata yg tertuang dalam surat ini bisa terungkap dengan jelas bahwa aku masih jatuh cinta sama kamu, biarlah dia menari-nari dalam suasana keindahan musim semi yang sempurna.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun