Mohon tunggu...
Ermawaty Ermawaty
Ermawaty Ermawaty Mohon Tunggu... Dosen - Pejuang pendidikan

Saya ingin membantu perkembangan di dunia pendidikan dan membantu anak spesial untuk mendapatkan pendidikan yang sesuai

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Cahaya di Hatiku

17 Juni 2019   11:04 Diperbarui: 17 Juni 2019   11:22 110
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Pak Kepala Desa melepaskan anak tersebut. Dia bangkit dari jongkoknya. Masih dengan pisau di tangannya. Mendekati aku. Aku menelan ludah. Jantungku berdegup kencang.

"Selamat pagi Bu Guru," senyum ramah yang biasa kulihat di wajah Pak Kepala Desa kembali tersungging, namun kali ini membuat aku merasa mual, "Berangkat ke sekolah ya? Apakah ada yang perlu dibantu?"

Di belakang Pak Kepala Desa, aku melihat sang ibu merangkak mendekati anaknya dan memeluknya sambil menangis.

Tanpa sadar, jari tanganku menunjuk anak tersebut.

"Oh, maaf, mungkin ini mengejutkan Bu Guru ya," Pak Kepala Desa berujar dengan santainya, "Ini adalah ritual di desa kami untuk membantu anak anak yang lahir cacat. Kami sedang berusaha melepaskan kutukannya."  Sebuah batu besar terasa menimpa kepalaku!

Sejak itu sampai pagi yang dingin ini, kepalaku selalu berdenyut setiap kali teringat kejadian itu. 

Air mataku sudah kering. Aku merasa haus. Aku meraba meja di samping tempat tidur, mencari lilin. Listrik di desa ini hanya tersedia selama 4 jam. Dari jam 6 hingga 10 malam.

Mataku berkejap-kejap saat lilin dinyalakan. Kegelapan sebelumnya mulai sirna. Aku mulai bisa melihat benda benda di kamarku karena cahaya lilin.

Sebuah pemikiran tiba-tiba hadir di benakku.

Cahaya!

Ya! Cahaya!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun