Mohon tunggu...
Ermawaty Ermawaty
Ermawaty Ermawaty Mohon Tunggu... Dosen - Pejuang pendidikan

Saya ingin membantu perkembangan di dunia pendidikan dan membantu anak spesial untuk mendapatkan pendidikan yang sesuai

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Cahaya di Hatiku

17 Juni 2019   11:04 Diperbarui: 17 Juni 2019   11:22 110
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Di kebun kepala desa, ada beberapa ibu yang aku sapa tiap pagi. Mereka adalah para pekerja di kebun kepala desa. Tapi....pagi itu tidak terlihat seorangpun yang bekerja di kebun. Aku mencoba mencari-cari dengan mataku. Mungkin saja ada yang sedang berdiri di balik pohon. Namun karena tidak melihat seorangpun, aku berpikir, mungkin hari ini mereka ada kegiatan lain. Aku pun beranjak.

Saat itulah aku melihat, di sudut yang agak jauh dari kebun, ada beberapa orang sedang berkumpul. Terkadang terdengar suara mereka saling berteriak. Karena penasaran, saya mendekati mereka.

"Bunuh saja!"

"Jangaannnnn...!!!"

Semakin dekat, nyaliku semakin ciut. Kata-kata yang samar terdengar, sangat menakutkan. Tapi rasa penasaran ini....

Aku melongo melihat apa yang terpampang di depanku.

Pak Kepala Desa, yang sangat ramah dan baik itu, dalam posisi berjongkok, sedang memegang rahang seorang anak kecil. Mulut anak tersebut mengeluarkan banyak darah. Anak tersebut sepertinya sudah tidak sadarkan diri. Badannya terkulai di tanah. Bahasa tubuh Pak Kepala Desa, bukan dalam posisi sedang menyelamatkan anak tersebut. Ada pisau berlumuran darah di tangannya yang lain!

Tidak jauh dari posisi kepala desa, aku melihat salah satu ibu pekerja di kebun kepala desa. Dia terduduk di tanah. Satu tangannya sedang berusaha meraih anak kecil tersebut namun ia ditahan oleh beberapa orang. Ia sedang menangis tapi suaranya sudah tidak terdengar. Rambutnya berantakan.

Aku merinding. Ada apa ini?

"Eh, ada Bu Guru." Sebuah suara menyentak rohku yang seakan sempat melayang, mengembalikan kesadaran diriku.

Semua yang ada di situ melihat kepadaku. Aku mulai panik, namun bergeming. Menatap mereka satu per satu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun