Arsa lagi-lagi menghela napas, kini ia tak sanggup memandang mata lawan bicaranya. "Aku tak tahu All. Saat kamu menghampiriku tiba-tiba keberanian itu muncul begitu saja." Nada bicara Arsa kini datar. Seolah ada alasan yang lebih tepat daripada apa yang baru saja ia katakan.
"All, Boleh aku tahu, apakah ketiga orang yang menyukaimu pernah berkunjung ke rumah?"
Allina heran, menapa Arsa bertanya demikian.
"Kenapa Ar?"
"Gak apa-apa, aku hanya cemburu," ujar Arsa.
Matanya tertuju pada lantai, kemudian mendongak menatap langit-langit.
"Maafkan aku Ar... harusnya jika sebelumnya aku tahu tentang perasaanmu aku tak perlu menceritakan ini semua". Ucap Alliana penuh penyesalan.
"Tak apa-apa All, toh aku untukmu bukan siapa-siapa..."
Allina mendongak, seolah berpendapat lain Siapa bilang kau tak berarti apa-apa?
"Enggak Ar," sangkal Allina.
"Enggak, kenapa Allina?"
"Aku juga memiliki perasaan yang sama. Dulu aku pernah benar-benar yakin jika kamu menyukaiku. Perhatianmu yang aku rasa lebih hangat, caramu memperlakukan aku berbeda dengan perlakuanmu terhadap orang lain. Namun kemudian semua menjadi samar ketika aku tahu kau pun terlalu akrab dengan semua orang. Aku pikir aku hanya dianggap teman biasa. Sama seperti yang lainnya."
Bagai terbang di angkasa ketika seorang Garra Arsana mendengar penjelasan Allina. Hatinya kini penuh dengan taman bunga, bermekaran di mana-mana.
"Oke All, kita sekarang sama-sama tahu perasaan masing-masing. Aku janji akan menjaga rasa ini untukmu."
Alliana mengangguk perlahan, dengan binar mata kebahagiaan.