Lalu, banyak orang tua beranggapan, "Biarin aja. Nanti kalau sudah capek, juga diam sendiri".Â
Pertanyaannya adalah, pernahkah kita mencoba cara lain untuk menenangkan dan membantu anak untuk berhenti menangis?
Salah satu cara yang akan kita pelajari melalui tulisan ini adalah memahami dan menerima emosi yang dirasakan anak pada saat menangis, dengan demikian kita akan tahu apa yang sedang ia rasakan sehingga kita dapat mengetahui kebutuhan yang ia perlukan dan dapat mengajaknya untuk lebih kooperatif dalam mengatasi tangisannya sendiri.Â
Memahami emosi anak dan kemudian menerima nya sebagai sesuatu yang wajar, akan mengarahkan kita untuk menanggapi tangisannya dengan lebih tenang dan wajar pula.Â
Anak yang merasa dipahami dan diterima dengan sendirinya juga akan belajar memahami perasaan emosinya sendiri, belajar membedakan perasaannya dan pada akhirnya ia pun belajar untuk mengendalikan emosi dan tangisannya sendiri.Â
Proses pembelajaran ini lah yang paling diharapkan orang tua, yaitu kemampuan anak untuk meregulasi emosinya.
Sebelum kita mencoba memahami emosi yang dialami anak secara spesifik di ruang rawat inap rumah sakit, kita perlu mengetahui jenis-jenis emosi dasar yang dirasakan oleh manusia, baik anak-anak, remaja maupun dewasa.Â
Izard (dalam Santrock, 2011) mengklasifikasikan 7 emosi dasar manusia ke dalam 2 kelompok besar, yaitu emosi positif yang terdiri dari antusias, bahagia dan cinta; emosi negatif terdiri dari cemas, marah, rasa bersalah dan sedih.Â
Sejak bayi kita memulai perkembangan emosi melalui tujuh emosi dasar tersebut, semakin bertambahnya usia, seseorang akan dapat mengalami emosi yang lebih beragam yang berasal dari turunan emosi dasar.
Sekarang marilah kita belajar menghentikan tangisan anak yang sedang dirawat di rumah sakit, melalui pengalaman Bu Nana dan Dimas.Â
Ada beberapa langkah-langkah yang dapat kita lakukan untuk memahami dan menerima emosi anak, yaitu: