"Kembalikan itu," pinta Inge. Dia memiliki firasat yang tidak enak namun Eva malah memakaikan gelang ke pergelangan tangannya. Seperti biasa, dia tidak bisa menolak keinginan Eva.
"Cantik." Eva mengangkat tangan dan menggoyangkannya perlahan. Terdengar bunyi gemerincing dari satu-satunya lonceng kecil yang terpasang di antara dua hiasan peri.
"Ungu sangat cocok denganmu. Terima kasih peramal, kami pergi dulu." Eva memakai gelang di tangan kiri sedang Inge di tangan kanan.
"Terima kasih." Inge sedikit menundukkan kepala untuk menunjukkan rasa terima kasihnya. Dia sendiri juga merasa lega karena mendapatkan gelang yang bisa dianggap sebagai gelang persahabatan. Gelang identik, yang satu berhiaskan peri bersayap ungu dan satunya berwarna biru.
Eva mengulurkan tangan kiri yang langsung disambut oleh Inge. Mereka berdua bergandengan tangan keluar dari tenda. Senyum terukir diwajah cantik mereka. "Sahabat selamanya," kata mereka bersamaan. Mereka tidak menyadari kalau gelang-gelang itu bersinar walau redup.
"Woah, apa ini?" Inge merentangkan kedua tangan. Dia sangat kaget karena berada di ketinggian diantara tingginya pohon yang berjajar rapat. Apakah mereka terbang?
"Aaaaa...." teriak Eva yang kehilangan keseimbangan. Pegangan tangan mereka terlepas.
Tiba-tiba seorang pemuda menangkap tubuh Eva. Pelan-pelan membawanya turun. "Apa kalian baik-baik saja?" tanya pemuda itu sambil tersenyum.
Eva terhanyut oleh senyuman cowok itu. Rasanya sungguh bahagia hanya dengan melihat wajahnya. Tanpa sadar dia ikut tersenyum.
"Lepaskan tangannya!" Inge menarik tangan Eva agar terlepas. Eva seperti orang mabuk yang sudah tidak sadar dengan kondisi sekitar. Dia hanya senyum-senyum sambil memandang cowok itu.
"Ada apa denganmu? Apa kamu iri karena pemuda cakep ini menolongku?" Suara Eva meninggi tapi terdengar seperti sedang menahan kesakitan. Dia memegangi pergelangan tangan kirinya.