"Jangan sombong dulu bos!" Kata Jepri.
Temannya yang satu tampak bergumam sembari menghisap rokok di sudut bibirnya. Mata sipitnya tertuju  pada deretan  kartu  domino di tangan kirinya sambil  mengerutkan  kening. Dia juga tidak mau terima dengan kekalahan berjudi kali ini.
"Kau tenang -tenang sajalah Jep! si Somad menangpun juga tidak  ada artinya. Ingat, dia berhutang  banyak pada kita  kemarin " kata Badri menyambung  perkataan  Jepri sambil tertawa  mengejek Somad.
Badri yang  dikenal sebagai  preman di pasar Wonokromo itu, meraih  botol Whisky. Di tangan  kirinya kartu domino tersusun rapi seperti sebuah kipas. Di lengannya terlihat bekas luka jahitan sepanjang limabelas sentimeter.
Tak jauh dari meja judi itu, seorang perempuan bertubuh seksi dengan memakai rok jeans mini warna hitam, berdiri sambil bersandar di dinding triplek. Bibirnya mengepulkan asap rokok.
Digenggaman tangan kanannya, sebotol whisky kosong. Dengan sempoyongan perempuan itu  berjalan menuju ketiga  laki - laki  bertato yang sedang  asyik  bermain judi. Tak ada satupun dari mereka yang peduli pada perempuan yang sedang mabuk itu. Langkahnya tampak limbung.
"Cak, menang maneh yo? Bagi - bagi rejeki rek!"
Perempuan itu tertawa genit sambil menyapa mereka. Lalu ia berdiri mendekat meja judi dan  mencolek si tambun. Dipamerkannya  gambar tato kupu-kupu di punggungnya.
"Ha-ha-ha-ha.." ketiga lelaki itu tertawa bersama. Mereka tidak menggubris kedatangan perempuan bertato kupu - kupu itu.
Derai tawa mereka berhenti ketika melihat Arlisa dan Reni lewat. Perempuan yang sedang mabuk itu juga ikut memandang tajam ke arah Arlisa. Matanya seolah menyelidiki Arlisa dari ujung rambut  sampai ujung kaki. Seperti  melihat  mahkluk  asing  turun  dari langit.
Ketakutan perlahan  mulai menyergap hati Arlisa. Reni lalu   menggandeng  tangan dan menariknya dengan kuat. Tak lama melangkah, mereka sampai di rumah Reni.