Kang Naryo oke saja. Ia memang lelaki penyabar. Asal tahu saja, usianya sekarang sudah berkepala tiga, ia hanya mengusap dada dilecehkan Baidil yang ABG. Kalau bukan Kang Naryo, sudahlah, benjol-benjol tuh muka Baidil.
Mbak Leli pura-pura tidak menyadari kalau kedua pemuda itu akan mempertaruhkan dirinya. Si Mbak tahu, tapi toh ia butuh duit. Maka disambutlah kedatangan Baidil dan Naryo dengan keramahan. Ia senang karena Kang Naryo menggelontorkan duitnya untuk dua mangkuk bakso dan sebungkus Marlboro. Ia tetap tersenyum saat Baidil sodorkan sekeping lima ratus untuk roti kacang sebungkus.
Lima menit bertanding, pembeli datang dan pergi silih berganti. Sesekali terdengar keluh kesah Baidil. Pantaslah kalau Baidil mengeluh; tiga prajurit koit, sebelumnya kuda, lalu terakhir benteng. Hek, Baidil sesak napas. Sementara armada hitam milik Kang Naryo hanya satu pion terjengkang.
"Sudahlah, Dil, menyerah saja!" kata seorang pembeli sambil ngeloyor pergi. Ia pergi mau nonton tipi.
Pembeli lain menepuk ringan bahu Baidil: "Hanya dengan sebuah keajaiban, raja putihmu selamat."
Pembeli itu pun pergi pula. Katanya mau nonton drama Korea di Indosiar.
Baidil mendelik marah.
Kang Naryo terkekeh senang.
Mbak Leli berseru dari dalam warung: "Sabar ya, Dil, jangan menyerah dulu!"
Syukurlah, support dari Mbak Leli segera menyejukan panasnya hati Baidil. Memang, sepertinya Mbak Leli memihak Baidil, terbukti saat kuda putih dipelintir sang patih hitam, Mbak Leli mengeluh. Pun, ketika benteng putih terjebak dan menjadi santapan peluncur hitam, Mbak Leli merengut. Hati Baidil sesungguhnya riang gembira. Ia pikir Mbak Leli pasti lebih menyukainya. Maka, ketika si mbak melayani seorang ibu yang mau beli pilus Garuda, yang kata si ibu anaknya merengek-rengek setelah melihat iklan pilus di tipi, Baidil berbisik di kuping Kang Naryo: "Kita sudahi saja."
Kang Naryo terpana: "Menyerah?"