“Ah, tidak apa-apa. Diajeng belum tahu ya? Kanda Amenglayaran sudah sering digoda Manekadewi. Dan lulus. Buktinya sudah diwisuda jadi Pendeta muda. Dulu di Pakuan Pajajaran, ada juga seorang gadis cantik yang jatuh cinta pada Kanda Amenglayaran. Tetapi Kanda Amenglayaran menolaknya. Padahal Putri Ayunglarang Sakean, cantik lho,” kata Kamandaka kembali menggoda Pendeta Muda yang baru tiba itu. Pendeta Muda yang digoda itu tambah merah wajahnya. Tetapi dia cepat bisa menguasai dirinya, lalu tersenyum.
“Bukannya Dinda Ayunglarang Sakean yang jatuh cinta pada Dinda Banyakcatra?” Pendeta Muda itu mulai melakukan serangan balik yang membuat Sang Dewi berdebar-debar dan langsung berkata.
“Oh, masih ada gadis yang menunggu Kanda Banyakcatra di Pajajaran?” tangan Sang Dewi langsung mencubit pinggang Kamandaka.
“Ah, Diajeng Dewi jangan percaya. Faktanya Putri Ayunglarang Sakean mengirim tempat sirih lengkap dengan isinya, minyak wangi dari negeri China, baju-baju yang bagus, serta sebilah keris, lewat Emban Jompong Larang langsung pada Kanda Amenglayaran. Bukan kepada aku,” kata Kamandaka sambil menahan sakit di pinggangnya karena dicubit istrinya.
“Lho, Dinda Banyakcatra tahu?” tanya Raden Amenglayaran.
“Ya, jelas tahu. Bukankah Dinda Ratna Pamekas yang disuruh Kanda supaya mengembalikan barang-barang kiriman dari Putri Ayunglarang Sakean? Eh, Kanda sudah ketemu Dinda Ratna Pamekas belum ?” tanya Kamandaka. “Dinda Silihwarna, tolong panggil Dimas Arya Baribin dengan Dinda Ratna Pamekas. Katakan ada tamu dari Pakuan Pajajaran!.”
“Lho, Dinda Ratna Pamekas ada di sini?” tanya Pendeta Muda itu terkejut. Dia sama sekali tidak menduga Ratna Pamekas ikut kakak-kakak tirinya ke Pasirluhur.
”Aku mengira Dinda Ratna Pamekas masih dipingit di Taman Kaputren Pakuan Pajajaran,” kata Pendeta Muda.
“Ya, dia sudah punya calon suami namanya Arya Baribin, ksatria trah Majapahit,” kata Kamandaka.
“Calon suami Dinda Ratna Pamekas dari trah Majapahit? Wah, kebetulan sekali, Dinda,” kata Pendeta Muda itu. “Aku sebenarnya mendapat amanat dari Sri Baginda. Selain mewakili Sri Baginda menghadiri pesta perkawinan Dinda, aku seharusnya melanjutkan perjalanan ke bekas Ibu Kota Majapahit di Trowulan, kemudian akan ke Kediri dan akan dilanjutkan ke Demak.”
Pendeta Muda Amenglayaran itu pun berceritera. Dia sebenarnya mendapat tugas dari Sang Raja Sri Baginda Prabu Siliwangi. Selain ditugaskan menghadiri perkawinan agung Sang Dyah Ayu Dewi Ciptarasa – Raden Kamandaka Banyakcatra, dia ditugaskan pula untuk melakukan muhibah sebagai duta Sang Raja mengunjungi kerajaan-kerajaan yang baru muncul pasca runtuhnya Kerajaan Majapahit, yakni Kerajaan Hindu Kediri dan Kerajaan Islam Demak. Hanya soal waktu kapan mengunjungi kerajaan-kerajaan itu, Sri Baginda menyerahkan sepenuhnya kepada Pendeta Muda itu.