"Aku enggak tahu caranya, dia pasti kecewa, tadi pagi saja sudah nanyain uang langganan."
"Man, Man, piye sih, lebih baik terus terang daripada istrimu ngarep terus," kata Dulatif.
"Kamu benar Dul, nanti aku terus terang, tapi bagaimana caranya aku bisa dapat uang buat bulan ini, tiga ratus ribu duit darimana?"
Dulatif dan Bejo tidak menjawab. Tiga ratus ribu bukan uang yang sedikit. Sudah sejam ngetem aja belum ada satu penumpang pun buat mereka. Alih-alih nunggu perempuan punya anak itu sore nanti, untuk memutari kompleks.
"Pinjamin uang dong," kata Triman pada dua temannya.
"Aku enggak ada duit segitu," jawab Dulatif.
"Ya samalah," kata Bejo.
Malam itu Triman pulang dengan perasaan gundah. Ada 20 ribu di sakunya, hasil menjual rokok pemberian pak Kordes tadi pagi. Penumpang satu-satunya adalah nenek tua yang minta diantar ke puskesmas. Bayarnya besok, akan dibayar sama anaknya.
Istrinya sudah menunggu sambil menonton televisi byar pet di ruang tamu. Uang yang ada di sakunya, diberikan pada istrinya.
"Dari bu Jarwo mana?"
"Ini saja dulu, buat belanja besok."