"Mungkin Pak Ridwan merasa terabaikan," timpalku.
"Perempuan juga punya hak untuk memilih," jawabnya pasti.
Mendengar jawaban itu, aku enggan berkomentar lagi. Karena Miss Siska sudah mengetok palu bahwa semua keputusannya sebuah harga mati. Dia tidak menangis, dia tidak kecewa dan gentar dengan hasil keputusannya itu.
"Suzan, kalau perempuan tidak mandiri, dia nanti tidak dihargai oleh suami," katanya semakin membuat aku terkunci tanpa bisa berpendapat apapun.
Dan pada kenyataannya, kemandiriannya justru membuat perkawinanya runtuh. Aku menghargai pendapat mantan guru TK ini, tetapi aku memiliki pemikiran lain. Perempuan disisi lain boleh mandiri, tetapi tidak boleh meninggalkan dan menerlantarkan keluarganya sendiri.
Dan setelah Nia meninggalkan Miss Siska, aku semakin yakin bahwa anak tak hanya butuh kebanggaan. Tetapi juga butuh perhatian, cinta kasih, sentuhan dan terutama waktu. Biarpun dalam karir perempuan memperoleh jabatan setinggi langit, kalau menerlantarkan anak-anaknya, dia telah mengecewakan anaknya sendiri.
Rumah sakit makin sepi. Miss Siska belum juga bangun dari tidurnya. Aku keluar untuk melihat-lihat. Lalu mampir ke ruang perawat. Seorang perawat tersenyum dengan manis.
"Anaknya Bu Fransiska ya Mbak?" tanyanya.
"Bukan, saya bekas muridnya di TK," jawabku.
"Bekas muridnya?"
"Iya, kenapa memang?"