"Ya sudah aku pulang jalan kaki saja," ujar Keti dengan nada ketus.
"Aku aja yang nganterin kamu balik, Ket." Deva tiba-tiba memberikan tawaran.
"Nggak usah, makasih."
Mereka semua paham jika Keti sedang marah. Deva hanya beralasan saja untuk mengantar. Gadis itu berpikir Deva hanya pura-pura kasihan. Padahal dalam hatinya, Keti yakin dia menolak.
"Rumahmu jaraknya jauh loh Ti," Mila pun merangkul Keti, membujuknya agar dia mau diantarkan oleh Deva. Keti pun pasrah lalu menuruti kemauan Mila.Â
.....
Baru pertama kali Keti berboncengan dengan seorang laki-laki. Sepanjang jalan Deva hanya diam, sekali bicara hanya ucapan maaf yang keluar dari mulutnya. Perasaan marah mulai reda ketika angin menyapa rambutnya yang terurai sepanjang dada.
Motor berhenti di depan rumahnya, "Ti, sebenarnya aku tak ingin ikut menertawakanmu. tetapi sungguh namamu sangat lucu. Ibumu dulu ngidam apa waktu melahirkanmu kok dikasih nama Suketi."
"Aku kira kau tak akan mengejek namaku lagi, ternyata_"
"Maaf, cuma bercanda gitu aja kok sewot. Nanti cantiknya hilang tahu." Sergah Deva.
Dimata Keti Deva sama saja dengan teman laki-laki yang selalu mengejeknya, Keti menutup telinga dan masuk ke dalam rumah meninggalkan Deva yang termangu sendirian. Pintu rumah Keti lekas ditutup sampai mengeluarkan bunyi yang sangat keras.