Mohon tunggu...
NUR AFIFAH
NUR AFIFAH Mohon Tunggu... Guru - Guru

Hobi : Bersholawat

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Hasil Belajar Meningkat Dengan Metode Demonstrasi

9 Januari 2023   00:21 Diperbarui: 9 Januari 2023   00:27 669
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

“MENINGKATKAN HASIL BELAJAR FIQIH MATERI SHALAT BERJAMAAH MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI SISWA KELAS VII MTS NURUL ISLAM CLEKATAKAN TAHUN PELAJARAN 2021/2022)”

 

Oleh:

Nur Afifah

 

Guru Mepel Pendidikan Agama Islam

Email: nurafifahsmkci@gmail.com

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran metode demonstrasi sehingga siswa dapat beraktifitas dan berpartisipasi dalam upaya meningkatkan kualitas shalat siswa pada pembelajaran Fiqih tentang shalat berjama’ah. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas model Kurl Lewin yang terdiri dari dua siklus yang setiap siklusnya terdiri dari empat tahap, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Berdasarkan analisis dan pembahasan peneliti dapat menyimpulkan bahwa melalui model pembelajaran demonstrasi sebagian besar siswa sudah memperlihatkan prediket MK (Membudaya/Kebiasaan) yaitu siswa terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten. Adapun belajar dengan menggunakan LKPD, sangat membantu merangsang minat dan aktifitas siswa belajar, sehingga suasana dalam berdiskusipun berkesan asyik dan menyenangkan. Dengan adanya kegiatan demonstrasi yang dilakukan berulang-ulang, siswa sudah dapat memposisikan dirinya ketika menjadi imam, menjadi makmum biasa maupun makmum masbuq.

Kata kunci : Metode Demonstrasi, Pembelajaran Fiqih, Shalat Berjama’ah.

 

PENDAHULUAN

Salah satu butir dari misi bangsa Indonesia sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 disebutkan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi anak didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dalam kenyataannya, hal ini masih sulit diperoleh bukti yang segnifikan manakala pihak sekolah telah mampu mengembangkan kemampuan tersebut secara optimal. Habibie (Ruindungan, 1996: 8) dalam hasil pengamatannya mengatakan bahwa system pendidikan kita belum memberi ruang yang lebih luas bagi pengembangan kemampuan kreatif, khususnya kreativitas berpikir anak. Munandar (1992: xiv) mengatakan bahwa pihak sekolah belum atau kurang merangang kemampuan berfikir kreatif siswa.

Dalam setiap kegiatan mengajar, pada dasarnya meliputi tiga kegiatan, yaitu kegiatan sebelum pembelajaran, kegiatan pelaksanaan pembelajaran, dan kegiatan sesudah pembelajaran. Agar kegiatan mengajar dapat berjalan efektif, maka guru harus mampu memilih metode mengajar yang paling sesuai. Proses pembelajaran akan efektif jika berlangsung dalam situasi dan kondisi yang kondusif, hangat, menarik, menyenangkan, dan wajar. Oleh karena itu, guru perlu memahami berbagai metode mengajar dengan berbagai karakteristiknya, sehingga mampu memilih metode yang tepat dan mampu menggunakan metode mengajar yang bervariasi sesuai dengan tujuan maupun kompetensi yang diharapkan.

Metode pembelajaran yang monoton menjadi penyebab rendahnya minat belajar siswa. Minat belajar yang rendah menjadi penyebab tidak optimalnya prestasi belajar yang dicapai siswa. Upaya meningkatkan prestasi belajar siswa dapat dilakukan dengan cara meningkatkan minat belajar siswa. Minat belajar dapat ditingkatkan melalui metode pembelajaran yang menekankan peran aktif siswa serta dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa sehingga proses pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Pembelajaran Fiqih diarahkan untuk mengantarkan peserta didik dapat memahami pokok-pokok hukum Islam dan tata cara pelaksanaannya untuk di aplikasikan dalam kehidupan sehingga menjadi muslim yang selalu taat menjalankan syariat Islam secara kaaffah (sempurna).

Salah satu kompetensi dasar yang membutuhkan metode yang tepat pada mata pelajaran Fiqih adalah kompetensi keterampilan shalat berjama’ah, karena merupakan materi yang sangat penting penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi banyak siswa yang merasa kurang mampu dalam memahami dan menerapkan materi shalat berjama’ah ini dalam kehidupan sehari-hari, dikarenakan pembelajaran Fiqih berlangsung secara tradisional yang mengutamakan guru sebagai pusat belajar bagi siswa. Di sisi lain, proses pembelajaran umumnya masih didominasi dengan metode ceramah dan tugas mengerjakan soal latihan dibuku/LKS.

Dalam sekolah guru berperan memotivasi, memfasilitasi dan membimbing siswa supaya siswa melakukan kegiatan belajar. Sedangkan siswa berperan mempelajari kembali, menelaah, menganalisis maupun memecahkan masalah pada setiap materi yang diajarkan guna meningkatkan kompetensi spiritual, sikap/sosial, pengetahuan dan keterampilannya dalam setiap kemampuan dasar yang disajikan. Untuk memecahkan masalah pembelajaran yang demikian, perlu dilakukan upaya pengembanganpembelajaran. Pengembangan pembelajaran yang diperlukan saat ini adalah pembelajaran inovatif yang dapat meningkatkan kreatifitas siswa, serta memberikan iklim yang kondusif dalam perkembangan daya nalar siswa.

Penulis memilih metode yang menurut penulis tepat untuk mengatasi masalah pembelajaran tersebut, maka metode pembelajaran yang dipilih dalam penelitian ini adalah metode demonstrasi pada materi shalat berjama’ah. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan siswa-siswi MTs berasal dari SD sehingga mempengaruhi pengetahuan dan pemahaman dasar siswa terhadap materi yang diajarkan. Banyak siswa yang mengaku sudah melaksanakan shalat lima waktu secara penuh, namun ketika dicek aspek bacaannya masih banyak yang belum hafal, sehingga dibutuhkan salah satu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar terutama dalam kompetensi psikomotorik/keterampilan. Selain itu, diharapkan dengan metode demonstrasi dapat meningkatkan kualitas shalat berjama’ah siswa yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

IDENTIFIKASI MASALAH

Bertolak dari pemikiran diatas, penelitian ini mencoba melakukan penelitian dan pengembangan terhadap metode pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan dalam kondisi pembelajaran Fiqih. Secara khusus, penelitian ini bukan sekedar melakukan eksperimen dan uji coba semata-mata, akan tetapi melakukan penelitian dan pengembangan terhadap Metode pembelajaran dalam pembelajaran Fiqih yang merupakan gabungan dari berbagai metode pembelajaran yang rentangan aktivitas belajar mulai komando, tugas, resiprokal, sampai pemecahan masalah. Dalam hal ini penulis mengidentifikasi beberapa masalah yang terdapat di kelas siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran Fiqih, proses pembelajaran Fiqih hanya satu arah yaitu teacher centered, model pembelajaran tidak tepat sehingga dalam pembelajaran Fiqih tidak efektif, Kurangnya peran siswa dalam pembelajaran yang menyebabkan hasil belajar siswa rendah dalam pembelajaran Fiqih.

DEFINISI OPERASIONAL

Definisi operasional adalah aspek penelitian yang memberikan informasi kepada kita tentang bagaimana caranya mengukur variabel.Variabel agar tidak terjadi salah persepsi terhadap judul penelitian maka perlu didefinisikan hal-hal sebagai berikut :

  • Hasil Belajar

Hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh dari suatu proses usaha setelah melakukan kegiatan belajar yang dapat diukur dengan menggunakan tes guna melihat kemajuan siswa. Hasil belajar diukur dengan rata-rata hasil tes yang diberikan dan tes hasil belajar itu sendiri adalah sekelompok pertanyaan atau tugas-tugas yang harus dijawab atau diselesaikan oleh siswa dengan tujuan mengukur kemajuan belajar siswa. (Slameto,2008:7-8). Jadi dapat diambil pemahaman bahwa hasil belajar digunakan sebagai acuan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi dengan melakukan evaluasi pada setiap akhir prosespembelajaran.

Mata Pelajaran Fiqih kelas VII MTs termasuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang membahas masalah tentang Fiqih ibadah dan Fiqih muamalah. Fiqih ibadah berisi pengenalan dan pemahaman tentang taharah, salat berjamaah, adan iqomah, salat sunah, salat jum’at, dzikir dan do’a.

Materi pokok shalat berjama’ah kelas VII Madrasah Tsanawiyah memiliki kompetensi dasar antara lain, menganalisis ketentuan shalat berjama’ah meliputi pengertian, dalil, hukum, syarat menjadi imam dan makmum; ketentuan makmum masbuk, cara mengingatkan imam yang lupa, cara mengganti imam yang batal, hikmah shalat berjama’ah dan tata cara shalat berjama’ah.

  • Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada peserta didik suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik dalam bentuk sebenarnya maupun dalam bentuk tiruan yang dipertunjukkan oleh guru atau sumber belajar lain yang ahli dalam topik bahasan " ( Mulyani Sumantri, dalam Roetiyah 2001 : 82 ).

Perumusan dan pembatasan masalah, berdasarkan uraian pada latar belakang masalah tersebut persoalan pokok dalam penelitian itu adalah pembelajaran Fiqih tentang shalat berjamaah. Pertanyaan pada penelitian ini 1. Apakah metode demonstrasi mampu meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Fiqih materi shalat berjama’ah pada siswa kelas VII di MTs Nurul Islam Clekatakan tahun 2020/2021.

Tujuan Penelitian dan manfaat penelitian ini meliputi:

  • Tujuan penelitian untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Fiqih materi shalat berjama’ah pada siswa kelas VII di MTs Nurul Islam Clekatakan tahun 2020/2021 dengan metode demonstrasi.
  • Manfaat penelitian menggunakan metode demostrasi:
  • Bagi Sekolah yakni Menjadi bahan masukan untuk para guru untuk mengembangkan kompetensinya, terutama yang berkaitan dengan aktivitas belajar siswa dengan penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran Fiqih materi shalat berjama’ah.
  • Bagi Guru, Menjadi bahan masukan untuk para praktisi pendidikan khususnya guru Fiqih dalam penggunaan metode demonstrasi agar mengarah kepada keaktifan siswa sehingga hasil belajar dapat tercapai dengan maksimal.
  • Bagi Siswa, Penelitian ini dapat membantu siswa mengaktifan dirinya dalam proses belajar mengajar sehingga keinginan siswa untuk belajar meningkat. Selain itu dengan menggunakan metode demonstrasi dapat menunjukkan kemampuan siswa dalam memperagakan tata cara shalat berjama’ah dengan benar.
  • Bagi peneliti sendiri bermanfaat untuk mengenalkan dan memanfaatkan metode demonstrasi kepada siswa sebagai alternatif penggunaan media yang efektif dan peneliti dapat memahami lebih jauh penggunaan metode demonstrasi.

HIPOTESIS

  • Hipotesis tindakan

Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul.Kata hipotesis berasal dari kata, yaitu “hypo” yang berarti dibawah dan kata “thesa” yang berarti kebenaran (Arikunto, 1998: 67-68).

Berdasarkan definisi tersebut peneliti mengambil kesimpulan bahwa hipotesis merupakan dugaan sementara terhadap suatu permasalahan penelitian sehingga akan diterima apabila kebenarannya dapat diuji dan begitu juga sebaliknya, akan ditolak apabila setelah pengujian tidak terbukti kebenarannya.

Dari beberapa uraian di atas, maka peneliti merumuskan hipotesis penelitian dengan menggunakan metode Demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar pelajaran Fiqih dalam materi shalat berjama’ah pada siswa kelas VII di MTs Nurul Islam Clekatakan tahun 2020/2021.

  • Indikator Keberhasilan

Penerapan metode Demontrasi dikatakan efektif, apabila mencapai indikator yang diharapkan. Adapun indikator yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  • Nilai hasil belajar siswa mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan, yaitu 75.
  • KKM Klasikal mencapai85% Siswa dikatakan tuntas belajarnya (ketuntasan individu) jika proporsi jawaban benar siswa ≥ 65%, dan suatu kelas dikatakan tuntas belajarnya (ketuntasan klasikal) jika dalam kelas tersebut terdapat ≥ 85% siswa yang telah tuntas belajarnya. (Trianto, 2010: 241)

KERANGKA TEORITIK

  • Peningkatan Hasil Belajar

Kata peningkatan juga dapat menggambarkan perubahan dari keadaan atau sifat yang negatif berubah menjadi positif.Sedangkan hasil dari sebuah peningkatan dapat berupa kuantitas dan kualitas. Kuantitas adalah jumlah hasil dari sebuah proses atau dengan tujuan peningkatan. Sedangkan kualitas menggambarkan nilai dari suatu objek karena terjadinya proses yang memiliki tujuan berupa peningkatan. Hasil dari suatu peningkatan juga ditandai dengan tercapainya tujuan pada suatu titik tertentu. Dimana saat suatu usaha atau proses telah sampai pada titik tersebut maka akan timbul perasaan puas dan bangga atas pencapaian yang telah diharapkan.

Hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh dari suatu proses usaha setelah melakukan kegiatan belajar yang dapat diukur dengan menggunakan tes guna melihat kemajuan siswa. Hasil belajar diukur dengan rata-rata hasil tes yang diberikan dan tes hasil belajar itu sendiri adalah sekelompok pertanyaan atau tugas-tugas yang harus dijawab atau diselesaikan oleh siswa dengan tujuan mengukur kemajuan belajar siswa. (Slameto, 2008:7-8). Jadi dapat diambil pemahaman bahwa hasil belajar digunakan sebagai acuan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi dengan melakukan evaluasi pada setiap akhir prosespembelajaran.

  • Mata Pelajaran Fiqih kelas VII MTs Materi Shalat Berjama’ah

Mata Pelajaran Fiqih kelas VII MTs termasuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang membahas masalah tentang Fiqih ibadah dan Fiqih muamalah. Fiqih ibadah berisi pengenalan dan pemahaman tentang tata cara pelaksanaan rukun Islam dan pembiasaannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks FIQIH muamalahnya dibahas ketentuan makanan dan minuman yang halal dan yang haram, khitan, qurban, jual beli, dan pinjam meminjam.

Secara etimologi, “Fiqih berarti paham yang mendalam.”(Amir Syarifuddin, 1997: 2). Sedangkan menurut istilah yang digunakan para ahli Fiqih (fuqaha), Fiqih itu ialah ilmu yang menerangkan hukum-hukum syariat Islam yang diambil dari dalil-dalilnya yang terperinci. Dilihat dari segi ilmu pengetahuan yang berkembang dalam kalangan ulama Islam, Fiqih itu ialahilmu pengetahuan yang membicarakan, membahas, memuat hukum-hukum Islam yang bersumber pada al-Qur’an, sunah dan dalil-dalil syar’i yang lain,setelah diformulasikan oleh para ulama dengan mempergunakan kaidah-kaidah ushul Fiqih (Dzakiyah Drajat, 1995).

Lebih rinci lagi pada Materi Shalat Berjama’ah, pengertian shalat berjamaah sendiri secara bahasa memiliki arti pelaksanaan shalat yang dilakukan seorang diri atau shalat sendirian. Al-shalatul jama’ah bermakna pelaksanaan shalat yang melibatkan dua orang atau lebih sebagai satu kesatuan, yang salah satunya berperan sebagai imam dan yang lainnya sebagai makmum. Paling sedikit atau jumlah terkecil dalam pelaksanaan shalat berjama’ah adalah dua orang, satu sebagai imam dan lainnya menjadi makmumnya. Meskipun salah satu diantara dua orang adalah anak kecil. Kecuali shalat Jum’at yang mensyaratkan 40 orang.

Dasar hukum shalat berjamaah (KSKK Kemenag RI: 2020). Yaitu:

  • Firman Alloh Swt:

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ

Artinya:  “Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka” (QS: An-Nisa: 102)

  • Dalam Hadis Nabi Saw dijelaskan:  
  • صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
  • Artinya: “Shalat berjama’ah itu lebih utama dua puluh tujuh derajat (kedudukannya disisi Allah Swt. ) daripada shalat sendirian” (HR. Semua imam Hadis kecuali An-Nasa’i dan Abu Dawud).

Dari penjelasan diatas, dapat penulis pahami tentang pengertian mata pelajaran Fiqih dalam kurikulum Madrasah Tsanawiyah yaitu mata pelajaran yang diarahkan untuk memberikan pegetahuan, pemahaman dan bimbingan kepada siswa mengenai ketentuan-ketentuan syariat Islam untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dalam hal ini adalah materi slalat berjamaah.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru melalui refleksi yang bertujuan memperbaiki kinerja untuk meningkatkan hasil belajar siswa (Wardhani, Wihardit, 2008:14). Sehingga dapat diartikan juga bahwa PTK merupakan penelitian yang dilaksanakan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas.Penelitian ini juga menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai. Oleh karena itu, penelitian ini termasuk penelitian deskriptif.

Dalam penelitian ini meliputi beberapa metode, antara lain: 1). Pendekatan Penelitian, Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Jenis penelitian korelasional. Maksud dari penelitian ini adalah mengetahui peningkatan hasil belajar Fiqih materi shalat berjamaah dengan metode Demonstrasi pada siswa Kelas VII MTs Nurul Islam Clekatakan Tahun Pelajaran 2020/2021. 2). Lokasi dan Waktu Penelitian, Lokasi penelitian dilaksanakan di MTs Nurul Islam Clekatakan, Jl. Raya Moga Pratin Km. 10 RT 006 RW 003 Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Propinsi Jawa Tengah. 3). Populasi dan Sampel. Populasi Menurut Sugiono (2007: 60), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Berdasarkan definisi diatas, penelitian ini mengambil populasi sebagian siswa Kelas VIIA MTs MTs Nurul Islam Clekatakan tahun pelajaran 2020/2021 sebagai subyek penelitian, yang terdiri dari 1 (satu) kelas dengan jumlah keseluruhan 19 siswa.

Observasi yang telah peneliti lakukan, terdapat perbedaan kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran, khususnya pelajaran Fiqih. Hal ini dapat dilihat dari beberapa siswa memperoleh nilai ulangan harian maupun nilai tengah semester yang masih kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Sampel adalah himpunan bagian dari suatu populasi (Gülo, 2002: 78). Dalam penelitian ini peneliti mengambil sampel dengan cara random sampling, dimana proses pemilihan sampel seluruh anggota populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih dengan tujuan untuk menentukan kelas mana yang akan menjadi kelas eksperimen pada Kelas VIIA MTs Nurul Islam Clekatakan sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Teknik Pengumpulan Data, Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data (Arikunto, 2005: 100).

Data yang diperoleh berupa angka, keterangan dalam bentuk tulisan, informasi melalui ucapan atau lisan serta beragam fakta yang berkaitan dengan fokus penelitian. Dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode angket dan dokumentasi.

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini instrumen penelitian yang digunakan adalah: Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar observasi kegiatan belajar mengajar, Tes formatif yang disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, tes ini diberikan pada setiap akhir putaran.

Setelah melaksanakan penelitian, penulis kemudian melakukan analisis data untuk mengetahui keefektifan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa. Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau prosentase ketuntasan belajar sebagai perwujudan dari adanya peningkatan prestasi belajar siswa setelah proses pembelajaran setiap siklusnya, maka dilakukan evaluasi dengan tes formatif pada setiap akhir putaran.

PEMBAHASAN

  • Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh dari suatu proses usaha setelah melakukan kegiatan belajar yang dapat diukur dengan menggunakan tes guna melihat kemajuan siswa. Hasil belajar diukur dengan rata-rata hasil tes yang diberikan dan tes hasil belajar itu sendiri adalah sekelompok pertanyaan atau tugas-tugas yang harus dijawab atau diselesaikan oleh siswa dengan tujuan mengukur kemajuan belajar siswa. (Slameto, 2008:7-8).

Hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh individu setelah proses belajar berlangsung, yang dapat memberikan perubahan tingkah laku baik pengetahuan, pemahaman, sikap dan keterampilan siswa sehingga menjadi lebih baik dari sebelumnya. (Purwanto, 2002:82).

Dari beberapa teori di atas tentang pengertian hasil belajar, maka penulis menggaris bawahi hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar (perubahan tingkah laku: kognitif, afektif dan psikomotorik) setelah selesai melaksanakan proses pembelajaran dengan strategi pembelajaran information search dan metode resitasi yang dibuktikan dengan hasil evaluasi berupa nilai.

  • Faktor Mempengaruhi Hasil Belajar

Faktor yang mempengaruhi hasil belajar diantaranya faktor jasmani dan rohani siswa, hal ini berkaitan dengan masalah kesehatan siswa baik kondisi fisiknya secara umum, sedangkan faktor lingkungan juga sangat mempengaruhi. Hasil belajar siswa di madrasah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan. (Sudjana dan Rivai, 2001: 39).

Menurut Muhibbin Syah, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar peserta didik yaitu:

  • Faktor internal meliputi dua aspek yaitu: Aspek Fisiologis dan Aspek Psikologis.
  • Faktor eksternal meliputi: 1). Faktor lingkungan social, baik lingkungan keluarga, masyarakat, maupun sekolah. Lingkungan sosial yang paling banyak berperan dan mempengaruhi kegiatan belajar siswa adalah lingkungan orang tua dan keluarga. Siswa sebagai anak tentu saja akan banyak meniru dari lingkungan terdekatnya seperti sifat orang tua, praktik pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga dan demografi keluarga. 2). Faktor lingkungan non social. Faktor yang meliputi lingkungan nonsosial adalah adalah gedung sekolah dan bentuknya, rumah tempat tinggal, alat belajar, keadaan cuaca, dan waktu belajar siswa. (Muhibbin Syah, 2011:132).

Dari beberapa pemaparan kajian teori tentang faktor yang mempengaruhi hasil belajar di atas, maka dapat diketahui bahwa tinggi rendahnya hasil belajar peserta didik dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Faktor-faktor tersebut sangat mempengaruhi upaya pencapaian hasil belajar peserta didik dan dapat mendukung terselenggaranya kegiatan proses pembelajaran, sehingga dapat tercapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

MATA PELAJARAN FIQIH

  • Pengertian Fiqih

Fiqih artinya faham atau tahu. Dilihat dari segi ilmu pengetahuan yang berkembang dalam kalangan ulama Islam, Fiqih ialah ilmu pengetahuan yang membicarakan atau membahas atau memuat hukum- hukum Islam yang bersumber pada Al-Qur’an, Sunnah dalil-dalil Syar’i yang lain; setelah diformulasikan oleh para ulama dengan mempergunakan kaidah-kaidah Ushul Fiqh. (Abdul Rokhim. 2004: 26).

Selanjutnya pengertian Fiqih, secara bahasa berarti faham yang mendalam, mengetahui batinya sampai ke dalam. Secara istilah, Fiqih adalah ilmu tentang hukum-hukum syar’i yang bersifat amaliyah, yang digali dan dutemukan dari dalil-dalil yang tafsili. (Muyyazin, 2010: 15).

Mata Pelajaran Fiqih adalah salah satu bagian mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diarahkan untuk menyiapkan  peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati dan mengamalkan hukum Islam, yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya (way of life). Pendidikan ini melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman dan pembiasaan. (Depag RI, 2004:46).

Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Fiqih merupakan salah satu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang mempelajari ilmu pengetahuan yang membahas atau memuat hukum-hukum Islam yang bersumber pada Al-Qur’an, Sunnah dalil-dalil Syar’i yang lain, dengan tujuan untuk menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati dan mengamalkan hukum Islam, yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya.

  • Tujuan Pembelajaran Fiqih

Pembelajaran Fiqih di Madrasah Tsanawiyah bertujuan untuk memberi bekal kepada peserta didik agar dapat mengetahui dan memahami pokok-pokok hukum Islam dalam mengatur ketentuan dan tata cara menjalankan hubungan manusia dengan Allah yang diatur dalam Fiqih ibadah dan juga hubungan manusia dengan sesama manusia yang diatur dalam Fiqih muamalah.

Selain itu dengan tujuan lain dari pembelajaran Fiqih adalah melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar dengan melaksanakan ibadah kepada Allah dan ibadah sosial bermasyarakat.

Dengan didapatkannya pengalaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan ketaatan dalam menjalankan hukum-hukum Islam, disiplin serta dapat bertanggung jawab dalam kehidupan pribadi maupun sosial.

SHALAT BERJAMA’AH

  • Pengertian Shalat Berjamaah

Shalat menurut bahasa adalah doa (Azzam, dkk. 2010: 145). Sedangkan shalat menurut istilah adalah ibadah yang terdiri dari perbuatan dan ucapan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam (Hasbiyallah, 2013: 175). Kata jamaah diambil dari kata al-ijtima’ yang berarti kumpul. (Abdurraziq, 2007: 66). Jamaah berarti sejumlah orang yang dikumpulkan oleh satu tujuan (Said, 2008: 19). Menurut Kamus Istilah Fiqih shalat jamaah adalah shalat yang dikerjakan secara bersama-sama, salah seorang diantaranya sebagai imam dan yang lainnya sebagai makmum (Mujieb, dkk, 2002: 318).

Shalat jamaah adalah shalat yang dikerjakan secara bersama-sama, sedikitnya dua orang, yaitu yang satu sebagai imam dan yang satu lagi sebagai makmum (Ash-shilawy. 2009: 122). Apabila dua orang sembahyang bersama-sama dan salah seorang diantara mereka mengikuti yang lain, keduanya dinamakan shalat berjamaah. (Rasyid, 1995: 109)

Dari beberapa pendapat di atas mengenai arti salat berjamaah adalah salat jamaah adalah salat yang dilakukan bersama-sama yang dipimpin oleh imam, dan makmum mengikuti gerakan imam dengan syarat-syarat tertentu.

  • Dasar Hukum Pelaksanaan Shalat Berjamaah

Shalat disyariatkan pelaksanaannya secara jamaah. Dengan berjamaah shalat makmum akan terhubung dengan shalat imamnya. Hukum shalat berjamaah menurut sebagian ulama’yaitu fardu ‘ain (wajib ‘ain), sebagian berpendapat bahwa shalat berjamaah itu fardu kifayah, dan sebagian lagi berpendapat sunat muakkad (sunat istimewa).Pendapat terakhir inilah yang paling layak, kecuali bagi shalat jum’at.(Rasjid, 1994: 107).

Jadi shalat berjamaah hukumnya adalah sunat muakkad, hal ini dikarenakan sesuai dengan pendapat yang seadil-adilnya dan lebih dekat kepada yang benar. Bagi laki-laki shalat lima waktu berjamaah di masjid lebih baik dari pada shalat berjamaah di rumah, kecuali shalat sunah maka di rumah lebih baik. Sedangkan bagi perempuan shalat di rumah lebih baik karena hal itu lebih aman bagi mereka.

  • Manfaat dan Hikmah Shalat Berjamaah
  • Manfaat Shalat Berjamaah
  • Shalat jamaah memiliki faedah-faedah (manfaat-manfaat) yang banyak dan kebaikan-kebaikan yang agung, antara lain: 1. Allah SWT mensyariatkan kepada umat agar berkumpul pada waktu-waktu tertentu untuk shalat berjamaah, Hal itu dimaksudkan agar dapat saling menyambung silaturahmi diantara mereka, berbuat kebajikan, saling mengasihi dan memperhatikan. 2. Menanamkan rasa saling mengasihi, yaitu saling mencintai antara yang satu dengan yang lain sehingga saling mengerti dan memahami keadaan yang lain. Seperti menjenguk yang sakit, mengantar jenazah, membantu yang kesusahan dankesulitan. 3. Saling mengenal, karena apabila manusia shalat bersama-sama maka terjadi saling kenal diantaramereka. 4. Kaum muslimin merasakan persamaan dan hancurnya perbedaan-perbedaan sosial. Karena mereka berkumpul di masjid, orang yang paling kaya berdampingan dengan orang yang paling fakir, atasan berdampingan dengan bawahan, yang muda berdampingan dengan yang tua, demikian seterusnya. Maka manusia merasa mereka adalah sama sehingga dengan itu terjadi keakraban. 5. Menghindari kesalahan arah kiblat, karena belum tentu semua orang muslim mengetahui arah kiblat secara tepat, terkadang ada juga yang lupa jika berada di tempat yang masih asing. Sehingga dengan melakukan shalat secara berjamaah di masjid dapat mengurangi dan menghindari kesalahan arahkiblat. 6. Membiasakan manusia untuk berdisiplin, karena jika telah terbiasa mengikuti imam secara detail, tidak mendahului dan tidak tertinggal banyak, dan tidak membarenginya tapi mengikutinya maka ia akan terbiasa disiplin. (Said, 2008:53).
  • Hikmah Shalat Berjamaah
  • Allah Swt telah mensyariatkan shalat berjama’ah karena memiliki hikmah-hikmah yang besar, diantaranya: Menunjukkan persatuan umat Islam, Sebagai wujud syiar Islam, Merealisasikan penghambaan kepada Allah Tuhan semesta alam, Menumbuhkan kedisiplinan, Menghilangkan perbedaan status sosial.
  • Dalam hikmah tersebut ketika melakukan shalat berjamaah di masjid, maka sudah tidak ada perbedaan lagi antara yang kaya dan yang miskin, antara atasan dan bawahan, demikian seterusnya. Semua dihadapan Allah SWT sama, yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. (Mahir Manshur, 2007: 70).

  • Syarat Sah menjadi Imam dan Makmum Shalat Berjamaah
  • Syarat untuk menjadi imamadalah:
  • Lebih banyak mengerti dan paham masalah ibadah shalat.
  • Lebih banyak hapal surat-surat Al Qur’an.
  • Lebih fasih dan baik dalam membaca bacaan-bacaan shalat.
  • Lebih senior / tua daripada jamaah lainnya.
  • Tidak mengikuti gerakan shalat orang lain.
  • Laki-laki, tetapi jika semua makmum adalah wanita, maka imam boleh perempuan.
  • Sedangkan syarat sah menjadi makmum adalah:
  • Niat untuk mengikuti imam dan mengikuti gerakan imam.
  • Berada satu tempat dengan imam.
  • Laki-laki dewasa tidak sah jika menjadi makmum imam perempuan.
  • Jika imam batal, maka seorang makmum maju ke depan menggantikan imam.
  • Jika imam lupa jumlah rakaat atau salah gerakan shalat, makmum mengingatkan dengan membaca subhanallah dengan suara yang dapat didengar imam, untuk makmum perempuan dengan cara bertepuk tangan.
  • Makmum dapat melihat atau mendengar imam.
  • Makmum berada di belakang imam.
  • Mengerjakan ibadah shalat yang sama dengan imam.

Jika datang terlambat, maka makmum akan menjadi masbuk yang boleh mengikuti imam sama seperti makmum lainnya, namun setelah imam salam masbuk menambah jumlah rakaat yang tertinggal. Jika berhasil mulai dengan mendapatkan ruku' bersama imam walaupun sebentar maka masbuk mendapatkan satu rakaat.Jika masbuk adalah makmum pertama, maka masbuk menepuk pundak imam untuk mengajak shalat berjamaah.

METODE DEMONSTRASI

Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada peserta didik suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik dalam bentuk sebenarnya maupun dalam bentuk tiruan yang dipertunjukkan oleh guru atau sumber belajar lain yang ahli dalam topik bahasan " ( Mulyani Sumantri, dalam Roetiyah 2001 : 82 ).

Menurut Suaedy (2011) metode demonstrasi adalah suatu cara penyampaian materi dengan memperagakan suatu proses atau kegiatan. Pengertian metode demonstrasi menurut Syah (2000: 208) adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan dan urutan melakukan kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan.

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa metode demonstrasi adalah adalah metode mengajar yang menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada anak didik atau cara guru dalam mengajar dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, kejadian, urutan melakukan suatu kegiatan atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik dalam bentuk yang sebenarnya maupun tiruan melalui penggunaan berbagai macam media yang relevan dengan pokok bahasan untuk memudahkan siswa agar kreatif dalam memahami materi.

Pupuh Fathur Rochman ( 2007: 98) mengemukakan bahwa tujuan penerapan metode demonstrasi adalah untuk memperjelas pengertian konsep dan memperlihatkan cara melakukan sesuatu atau proses terjadinya sesuatu seperti:

  • Mengajar siswa tentang suatu tindakan, proses atau prosedur keterampilan-keterampilan fisik dan motorik.
  • Mengembangkan kemampuan pengamatan pendengaran dan penglihatan para siswa secara bersama-sama.
  • Mengkonkritkan informasi yang disajikan kepada siswa.

Dengan kata lain, metode demonstrasi dapat membantu siswa dalam mengatasi kesulitan belajar dan pemahaman pelajaran yang diajarkan oleh guru.

Selain mempunyai kelebihan, metode demonstrasi juga memiliki kekurangan-kekurangan, kekurangan metode demonstrasi adalah:

  • derajat visibilitasnya kurang, kadang-kadang terjadi perubahan yang tidak terkontrol
  • memerlukan alat-alat khsusus yang terkadang alat itu sukar di dapat.
  • Tidak semua hal dapat didemonstrasikan di dalam kelas.
  • Kadang demonstrasi di dalam kelas beda dengan demonstrasi dalam situasi nyata.
  • Memerlukan ketelitian dan kesabaran

Menurut Hasibuan dan Mujiono (2006: 31) langkah-langkah metode Pembelajaran demonstrasi adalah sebagai berikut:

  • Merumuskan dengan jelas kecakapan dan atau keterampilan apa yang diharapkan dicapai oleh siswa sesudah demonstrasi itu dilakukan.
  • Mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh, apakah metode itu wajar dipergunakan, dan apakah ia merupakan metode yang paling efektif untuk mencapai tujuan yang dirumuskan.
  • Alat-alat yang diperlukan untuk demonstrasi itu bisa didapat dengan mudah, dan sudah dicoba terlebih dahulu supaya waktu diadakan demonstrasi tidak gagal.
  • Jumlah siswa memungkinkan untuk diadakan demonstrasi dengan jelas.
  • Menetapkan garis-garis besar langkah-langkah yang akan dilaksanakan, sebaiknya sebelum demonstrasi dilakukan, sudah dicoba terlebih dahulu supaya tidak gagal pada waktunya.
  • Memperhitungkan waktu yang dibutuhkan, apakah tersedia waktu untuk memberi kesempatan kepada siswa mengajukan pertanyaanpertanyaan dan komentar selama dan sesudah demonstrasi.

PELAKSANAAN PENELITIAN

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas, yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru melalui refleksi yang bertujuan memperbaiki kinerja untuk meningkatkan hasil belajar siswa (Wardhani, Wihardit, 2008:14). Atau penelitian yang dilaksanakan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.

Gambar. 3.1 Diagram Daur Penelitian Tindakan Kelas (Faozan, 2019:12).

Gambar di atas menjelaskan bahwa rancangan/rencana awal, merupakan kegiatan yang dilakukan sebelum mengadakan penelitian.Peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran.Kegiatan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun prestasi belajar siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya metode Demonstrasi. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang telah dilakukan. Rancangan/rencana yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari peneliti membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya.

HASIL PENELITIAN

Pada penelitian ini penulis menggunakan dua siklus, yang setiap siklusnya terdiri dari empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Yang mana materi yang diteliti KI.1 (KD1.5), KI.3 (KD3.9), KI.4 (KD4.9) pada BAB V dengan judul materi “Indahnya Kebersamaan Dengan Berjamaah” Kurikulum 2013.

MTs Nurul Islam Clekatakan 38 siswa dengan dua rombongan belajar. Guru bidang Mata Pelajaran Fiqih bersama para siswa melaksanakan demonstrasi di dalam ruang kelas. Sebagai objek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIIA yang berjumlah 19 orang.

  • Situasi Kelas Sebelum Diterapkannya Model Demonstrasi

Sebelum penerapan model demonstrasi, situasi kelas pada pembelajaran Fikih kurang kondusif, hanya beberapa siswa saja yang berperan aktif dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan karena pembelajaran cenderung berpusat pada guru (teacher centered) dan menganggap bahwa mata pelajaran Fikih hanyalah mata pelajaran hafalan saja. Dengan digunakannya metode ceramah yang telah dipraktekkan oleh guru selama ini dalam menyampaikan materi pada siswa, guru dapat menentukan secara  mutlak materi yang ia ajarkan dan siswa hanya sekedar mendapatkan informasi atas   materi yang dipelajari.

Interaksi antara guru dengan siswa kurang efektif pada saat guru menyampaikan materi, siswa banyak yang tidak fokus memperhatikan penjelasan dari guru. Hal ini dapat terlihat dari adanya siswa yang asyik mengobrol dengan teman sebangkunya, melamun, mengantuk dan mencorat-coret kertas untuk menghilangkan rasa jenuh dan bosan. Dan pada saat guru mempersilahkan siswa untuk bertanya tidak ada yang merespon karena mereka kurang konsentrasi dan mengerti benar terhadap materi yang telah disampaikan guru. Maka yang didapat adalah hasil belajar Fikih yang masih rendah karena hasil rata-rata siswa masih dibawah KKM yaitu (65) sedangkan KKM yang berlaku di MTS Nnurul Islam Clekatakan (75).

  • Temuan Penelitian

Adapun kelas pelaksanaan penelitian adalah kelas VIIA. Kelas tersebut terpilih atas pertimbangan guru yang bersangkutan yang mengajar di kelas VIIA sewaktu peneliti melakukan observasi awal, sebagian besar siswanya kurang mampu memahami dan mengingat materi pelajaran Fikih, tidak berani bertanya walaupun belum paham dan nilai rata-ratanya masih rendah yaitu (68), karena belum memenuhi standar KKM yaitu (75), Pada pelaksanaan penelitian, peneliti mencoba untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Fikih melalui penerapan Metode Demonstrasi. Hasil belajar Fikih dalam penelitian ini akan diukur dari  hasil Postest yang akan dilaksanakan pada setiap siklus yang dilaksanakan. Untuk dapat memecahkan masalah yang telah peneliti temukan pada awal penelitian, peneliti dibantu oleh guru pendamping (observer) yang ikut merancang kegiatan selama penelitian berlangsung.

  • Siklus Pertama
  • Tahap perencanaan

Sebelum melaksanakan tindakan, peneliti sebagai observer terlebih dahulu mendiskusikan materi yang akan disampaikan kepada siswa dengan menerapkan metode demonstrasi yang akan dilaksanakannya. Materi yang akan disampaikan oleh peneliti yang dibantu dengan guru pamong mengambil satu materi pokok yaitu haji dan umrah. Sebelum kegiatan penelitian dilaksanakan, peneliti sudah terlebih dahulu mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sudah disusun sebelumnya. Hal ini perlu dilakukan agar kegiatan pembelajaran tidak menyimpang dari apa yang sudah direncanakan sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar.

  • Tindakan

Kegiatan pembelajaran pada siklus pertama ini dilaksanakan pada tanggal 12 Agustus 2021 pukul 09.00 - 09.40 WIB dengan alokasi waktu 1 x 40 menit. Pada saat pelajaran akan dimulai masih ada siswa yang sibuk bercanda dan mengobrol. Setelah dipastikan semua siswa telah masuk ke dalam kelas kemudian penulis membacakan absensi kehadiran siswa untuk mengetahui apakah seluruh siswa hadir pada proses pembelajaran siklus pertama. Pada siklus pertama dipastikan siswa hadir semua.

pada hari ini dengan apersepsi dan motivasi. Pada apersepsi, guru menjelaskan prosedur, Kompetensi Dasar, Tujuan Pembelajaran dan proses metode demonstrasi, kolaborasi metode ceramah, diskusi pun penulis sajikan, serta mengulang kembali materi yang telah dipelajari sebelumnya. Kemudian guru menggali pengetahuan siswa tentang ketentuan ibadah haji dan umrah.

Selanjutnya pada tahap motivasi, guru mencoba merangsang pengetahuan siswa dengan memberikan tanyaan yang berhubungan dengan materi yang akan dipelajari yaitu tentang ketentuan sujud. Salah seorang siswa dapat menjawab pertanyaan tersebut walaupun belum lengkap. Guru memberikan kesempatan kepada siswa lain untuk menambahkannya, dan siswa lainnya menambahkan jawaban temannya yang belum lengkap.

Sebelum masuk ke materi guru bertanya kepada siswa tentang manfaat mempelajari ketentuan sujud Sahwi, Sujud Syukur dan Sujud Tilawah. Kelas pun menjadi gaduh, guru berusaha menenangkan kelas. dan selanjutnya guru menyampaikan indikator dan tujuan yang akan dicapai.

Dengan demikian materi yang telah dipelajari dapat tercapai sempurna. Setelah pemberian apersepsi dan motivasi cukup kemudian memerikan soal pretest pilihan ganda 10 soal, setelah selesai mengerjakan soal pretest barulah guru mulai menjelaskan materi ketentuan ibadah haji dan umrah sesuai indikator. Kemudian guru pun membentuk kelompok menjadi 3 kelompok dan setiap kelompoknya terdiri dari 5 orang untuk melakukan diskusi.

  • Observasi

Hasil observasi ditulis pada lembar observasi yang telah disiapkan sebelumnya. Adapun dari apa yang peneliti dan observer amati selama kegiatan pembelajaran, data awal yang didapat peneliti setelah melakukan pengamatan mengenai proses pembelajaran dengan penerapan metode diskusi pada siklus pertama.

Tabel Pencapaian Tes Mata Pelajaran Fikih Kelas VIIB MTs Nurul Islam Clekatakan

 

Pada table di atas dapat dilihat perolehan nilai siswa sebelum tindakan dilakukan dari 19 orang siswa yang mencapai nilai ( 50-74) adalah 92% dengan kategori cukup tinggi dan yang mencapai ( 25-49) adalah 8% dengan kategori rendah. Adapun pencapaian nilai sesudah tindakan dilakukan dari 19 orang siswa mencapai nilai ( 75-91) adalah 26% dengan kategori tinggi dan mencapai nilai ( 50-74) adalah 74 % dengan kategori cukup tinggi. Dengan demikian ada peningkatan setelah penerapan metode demosntrasi dilaksanakan walaupun belum sesuai dengan apa yang diharapkan peneliti.

  • Refleksi

Secara garis besar kegiatan pembelajaran pada siklus pertama dapat dikatakan masih kurang. Hasil belajar siswa dalam bentuk postest mencapai nilai (68) cukup tinggi karena belum memenuhi kategori tinggi sekali dan belum memenuhi standar KKM , Pada saat pengerjaan soal, waktu menjadi sedikit bertambah karena keluhan  siswa bahwa mereka belum selesai mengerjakan soal.

Sedangkan pada saat pengerjaan soal masih ada beberapa kekurangan diantaranya, masih ada siswa yang berusaha melihat buku, masih ada siswa yang bertanya pada teman sebangkunya, meimnjam peghapus atau tanpa ijin dan sangat mengganggu ketika proses pembelajaran. Sedangkan dalam proses pembelajaran hanya beberapa siswa saja yang berani untuk mengajukan pertanyaan. Selain itu menggunakan metode diskusi belum maksimal karena siswa belum berani dalam mengemukakan pendapatnya dengan baik.

Hasil refleksi pada siklus pertama rata-rata hasil belajar dalam bentuk postest belum memenuhi kategori tinggi sekali, masih kategori rendah seperti yang tertera pada tablel di atas. Guru harus lebih membimbing siswa dalam menerapkan metode diskusi dengan baik, agar siswa dapat maksimal dalam melaksanakannya. Selain itu, sangat diperlukan ketegasan guru pada siswa yang terlambat masuk kelas, siswa yang tidak serius mengikuti pelajaran, serta siswa yang tidak mengumpulkan jawaban tepat pada waktunya. Siswa pun harus mampu mengerjakan soal tersebut secara mandiri. Dari hasil refleksi tersebut dan berdasarkan musyawarah peneliti dan observer dapat melihat bahwa proses pembelajaran dan hasil belajar pada siklus pertama belum memuaskan dan diperlukan siklus kedua.

  • Siklus kedua
  • Perencanaan

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk siklus kedua dilakukan dengan memperhatikan refleksi pada siklus pertama dan disesuaikan dengan program kerja  MTs Nurul Islam Clekatakan pada mata pelajaran Fikih kelas VIIA. Materi yang akan disampaikan  kepada siswa pada siklus kedua ini adalah Syarat Sah serta Posisi Imam dan Makmum.

Hasil rata-rata pretest dan postest pada siklus kedua ini telah meningkat dari siklus pertama. Hasil belajar tiap individupun meningkat dan pada posttest semua skor hasil belajar telah mencukupi, yaitu (78) sudah melebihi target KKM yaitu ( 75) yang berlaku di MTs Nurul Islam Clekatakan.

Adapun presentasi pencapaian keberhasilan siswa dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Pada tabel diatas sudah terlihat jelas bahwa penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar Fikih, adapun nilai rata- rata pretest pada siklus ke II ini, yang mendapat nilai (50-74) 57% dengan kategori cukup tinggi dan yang mendapat nilai rata-rata postest ( 50- 74 ) adalah 3% dengan kategori cukup tinnggi dan yang mendapat nilai rata-rata (75-91) 43% dengan kategori tinggi serta ada 1 siswa yang meiliki skor kategori tinggi sekali yaitu nilai 95 dikatakan demikian karena sudah melebihi KKM yang dilaksakan di MTs Nurul Islam Clekatakan yaitu (75).

  • Refkeksi

 Secara garis besar kegiatan proses pembelajaran dengan penerapan metode diskusi pada siklus kedua telah berhasil seperti terlihat pada table diatas rata-rata nilai postest adalah (80) sudah melebihi KKM yang dilaksanakan di MTs Nurul Islam Clekatakan yaitu (75) Selain itu siswa sudah mulai terbiasa dengan menerapkan metode diskusi.

Antusias siswa dalam proses pembelajaran pada siklus kedua sudah sangat baik, sehingga siswa terlihat aktif dari awal proses pembelajaran sampai dengan akhir pembelajaran. Keadaan kelas juga sudah menunjukkan hasil memuaskan, pada siklus kedua ini suasana kelas lebih tenang dan tertib daripada siklus pertama karena siswa sudah bisa menghargai ketika temannya sedang menyajikan hasil diskusi kelompok. Ketika mengerjakan soal postest pun siswa sudah mulai serius dan tidak ada lagi yang sibuk bertanya pada teman sebangkunya.

Hasil postest sudah lebih baik dari siklus pertama namun belum mencapai kategori tinggi sekali seperti yang diharapkan peneliti. Hasil refleksi pada siklus kedua adalah guru harus terus membiasakan siswa dalam penerapan metode diskusi sehingga proses pembelajaran siswa akan lebih bermakna. Selain itu, guru juga harus memberikan semangat kepada siswa untuk terus aktif pada saat proses pembelajaran berlangsung. Karena pada siklus kedua ini proses pembelajaran dengan penerapan metode diskusi, hasil belajar telah meningkat maka berdasarkan hasil musyawah antara peneliti dengan observer, penelitian ini dihentikan pada siklus kedua.

PEMBAHASAN PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan metode demonstrasi dan hasil belajar siswa dengan penerapan metode diskusi. Setiap siswa dituntut untuk mendapatkan hasil yang terbaik dan mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga hasil belajar tidak hilang begitu saja ketika proses pembelajaran selesai, namun bisa bertahan dan dapat digunakan ketika diperlukan.

Perbandingan hasil belajar yang signifikan sebelum dan sesudah penerapan metode diskusi terhadap materi dan siklus yang sama dapat dilihat pada pencapaian hasil tes.

Dari data tabel diatas dapat dilihat peningkatan skor atau nilai hasil belajar siswa berdasarkan hasil observasi mulai dari skor awal (Pra Siklus) sebelum dilakukan tindakan dan setelah dilakukan tindakan pada Siklus I dan siklus II. Gambar 4.1 . Grafik Skor Peningkatan Hasil Belajar Siswa

Dari data pada grafik diatas, maka dapat dilihat peningkatan Skor Hasil Belajar siswa dalam perbaikan pembelajaran dari awal sebelum dilakukan tindakan yaitu rata-rata 62 kategori rendah ,meningkat siklus I menjadi 68 kategori cukup tinggi, dan terjadi peningkatan kembali pada siklus II menjadi 78 kategori tinggi. Dari hasil yang terdapat pada tabel di atas menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa menggunakan metode demonstrasi pada kelas VII di MTs Nurul Islam Clekatakan Pulosari Pemalang pada pembalajaran Fikih materi shalat berjamaah.

KETERBATASAN PENELITIAN

Pada penelitian ini, peneliti tidak mendapatkan kendala besar yang mempengaruhi pelaksanaan maupun hasil penelitian. Meskipun begitu, bukan berarti dalam pelaksanaan penelitian ini tidak ada kendala sama sekali. Ada beberapa kendala teknis antara lain keterbatasan waktu, selain itu siswa belum terbiasa penerapan metode diskusi terlihat ada beberapa siswa yang masih malu dalam mengungkapkan argumentasinya ketika diskusi dilaksanakan pada setiap kelompok.

PENUTUP

Sebagaimana yang telah diuraikan pada latar belakang penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa sudah memperlihatkan prediket MK (Membudaya/Kebiasaan) yaitu siswa terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten. Belajar dengan menggunakan LKPD, sangat membantu merangsang minat dan aktifitas siswa belajar, sehingga suasana dalam berdiskusipun berkesan asik dan menyenangkan.Dengan adanya kegiatan demonstrasi yang dilakukan berulang-ulang, siswa sudah dapat memposisikan dirinya ketika menjadi imam, menjadi makmum biasa maupun makmum masbuq.

Pembelajaran PAI hendaknya bervariasi dan tidak monoton sehingga hasil pembelajaran dapat lebih maksimal. Agar kegiatan pembelajaran dapat berhasil dengan baik, maka seorang guru hendaknya selalu aktif dalam melibatkan siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Mengingat pelaksanaa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini hanya dua siklus dan validitas instrument penelitiannya belum memenuhi standar, maka penulis mohon masukan dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan penelitian ini.

Dari penelitian ini maka saran yang dapat peneliti sumbangkan pada pihak sekolah antara lain: Bagi guru dalam proses pembelajaran hendaknya lebih kreatif dengan menyajikan metode yang variatif sesuai dengan karakteristik pelajaran yang diajarkan. Sehingga pembelajaran menjadilebih menarik, tidak membosankan dan supaya siswa menjadi lebih termotivasi, aktif dan bersemangat dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Bagi guru sebaiknya menerapkan metode Demonstrasi pada bidang studi Fiqih lebih dioptimalkan. Meskipun Demonstrasi merupakan metode pembelajaran yang membutuhkan manajemen waktu dan pengelolaan kelas yang baik juga diperlukan perencanaan pembelajaran yang tepat namun penggunaan waktu yang efektif menjadikan pemahaman siswa terhadap materi Fiqih yang disampaikan akan lebih mendalam.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono. 1999. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Abdurraziq, Mahir Manshur. 2007. Mukjizat Shalat Berjamaah. Yogyakarta: MitraPustaka.

Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta.

Munandar, S.C.U. (l992). Menggunakan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah: Petunjuk bagi Guru dan Orang Tua. Jakarta: Gerasindo.

Ruindungan, M.G. (l996). Model Bimbingan Peningkatan Kreativitas Siswa Sekolah Menengah Umum (Studi Kuasi Eksperimental Upaya Bantuan Pengembangan Kemampuan Befikir Kreatif dan Sikap Kreatif pada siswa SMUK Dago Bandung. Disertasi. pada PPS IKIP Bandung, tidak diterbitkan.

Slameto, 2008.Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Remaja Rosdakarya.

Sulaiman Rasjid, 1994. Fiqh Islam. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Trianto, 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Wardhani, IGAK, Kuswaya Wihardit. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun