“Temenin gue main dong,” katanya.
“Emang udah sembuh apa? Nanti kalo lo sakit lagi gimana coba? Kan gue yang repot nantinya.”
“Lagian gue bosen di rumah mulu, kali-kali gitu gue pengen main keluar,” jelasnya, mengeluh.
“Hmm, yaudah deh iya. Mau pergi kapan kita, apa sekalian gue ajak anak-anak yang lain saja?” Kataku.
“Boleh-boleh, nanti gue kasih tahu lagi ya kapannya. Makasih Reksa. Dadah,” dia begitu saja mematikan teleponnya. Memang sifatnya ga pernah berubah dari dulu. Aku belum memberitahu Naura soal intershipku ke Jepang, begitu juga dengan teman-temanku yang lain. Baru keluargaku saja yang tahu mengenai ini.
***
Dua hari setelahnya Naura mengabariku lagi bahwa lusa kita akan pergi. “Duh mana lusa gue ada kerjaan lagi,” kataku dalam hati.
“Ra, gue lusa ada kerjaan. Ga bisa diganti jadi hari lain apa?” tanyaku via chat.
“Ga bisa, gue maunya lusa. Lu bisa kali minta izin dulu, kali-kali kan, gimana kalo gue keburu masuk rumah sakit lagi?”
“Buset dah ini anak ribet amat. Yaudah, tapi gue bakal telat datengnya. Nanti kita ketemu di tempat biasa saja,”
“Oke deh, hehe. Oh iya Andhra, Nadia, sama Dika gimana? Mereka jadi ikut?” tanya Naura.