Saya menduga karena latar belakang Gibran memang pengusaha jadi kata kuncinya didominasi niat komersil, tapi meski demikian Gibran sudah cukup lama menjabat sebagai walikota Solo (sejak Februari 2021).
Berita dan konten soal Gibran sebagai pejabat penting di Kota Solo seharusnya bisa lebih banyak daripada saat ia dulu menjadi pendiri aplikasi pencari pekerja lepas dan paruh waktu Kerjaholic (2018), katering Chili Pari, bisnis martabak Markobar, restoran Mangkokku (2019) dan Goola (2018).
Dan lebih aneh lagi karena Prabowo Subianto sendiri sudah malang melintang di dunia politik dan pemerintahan tetapi kenapa hingga sekarang niat netizen yang browsing namanya di dunia maya masih dinyatakan didominasi oleh niat komersil?
Lebih Banyak Konten, Lebih Banyak Dilihat, Lebih Mungkin Dicoblos
Kenapa saya menggunakan tolok ukur volume hasil pencarian Google dan kata kunci secara global untuk mencari sudut pandang lain soal kepopuleran yang lekat dengan elektabilitas pasangan capres dan cawapres?
Itu karena menurut hasil sebuah studi ilmiah oleh University of California yang dimuat di tautan ini, wajah yang lebih familiar dan sering kita temui mampu menciptakan perasaan aman daripada wajah yang asing.
Alasan ilmiahnya ialah karena otak manusia cenderung malas dan memiliki naluri alami untuk menyukai segala hal yang familiar atau sudah dikenal baik sebelumnya. Segala hal yang familiar memiliki risiko lebih rendah untuk memberikan bahaya atau mengancam nyawa kita.
Bahkan wajah yang familiar terasa lebih ramah meskipun pada kenyataannya wajah tersebut cenderung netral atau tidak menampakkan emosi positif apapun.
Nah karena Internet begitu lekat dengan kita sekarang ini, tentunya tidak berlebihan jika disimpulkan bahwa eksposure atau paparan kita terhadap wajah-wajah capres dan cawapres bisa memengaruhi pilihan dan preferensi politik kita.
Dan semua itu turut dipengaruhi oleh volume konten yang diproduksi di Internet dan dicari orang.
Logikanya, konten dibuat karena ada ketertarikan dari warganet soal sebuah topik/ isu. Makin banyak konten yang dibuat bisa berarti makin tinggi ketertarikan warganet soal isu/ sosok tertentu. Begitu juga sebaliknya.