ISTANA GIRI WANA
Oleh Wahyudi Nugroho
Rombongan prajurit Bala Putra Raja menginap di dusun Jungabang malam itu, tidak lagi meneruskan perjalanan ke pesanggrahan Wawatan Mas. Mereka harus mengubur beberapa korban dari kalangan penyerbu terlebih dahulu. Dan mengobati beberapa prajurit yang terluka.
Tak ada gangguan ketika mereka istirahat di Jungabang, semua bisa tidur nyenyak malam itu. Di pagi hari sebelum mereka mempersiapkan diri melanjutkan perjalanan, seorang lelaki tua dengan bekas luka di dahinya, datang ingin bertemu dengan senopati.
"Ada apa Kisanak, ingin menemuiku." Tanya Senopati.
"Saya bekel dusun Jungabang ini tuan. Hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada tuan, telah membebaskan dusun ini dari gerombolan yang merebut paksa dusun ini. Jika tuan berkenan, harap menangguhkan perjalanan tuan, kami ingin menjamu semua prajurit sebagai ucapan terima kasih kami."kata bekel Jungabang.
"Menjamu semua prajurit ? Apakah lumbungmu isinya cukup untuk menjamu kami semua ?" Tanya senopati sambil tertawa.
"Aku kira cukup tuan. Beras kami masih banyak. Ayampun masih utuh. Hanya ternak kambing warga kami yang jauh berkurang, dirampas anggota gerombolan untuk pesta saban malam." Kata bekel Jungabang itu.
Tapi senopati menggelengkan kepala. Bekal bahan pangan yang mereka bawa masih banyak, lebih dari cukup untuk menjamu semua prajurit.
"Terima kasih ki bekel. Kami sudah membawa bekal bahan pangan buat ransum para prajurit. Dusun sudah kembali aman kami sudah bahagia." Kata senopati.