Aku sendiri masih sedikit terkejut melihat pakaianku yang berbeda dengan pakaian terakhir yang kukenakan.
Pakaian ini rasanya seperti aku pernah menemukannya tetapi dimana aku bingung.
Setelah berjalan lumayan jauh kurang lebih 4km, kami sampai di Desa Atziyel.
Aku diajak masuk ke rumah Dena dan Hilda yang ternyata merupakan sepasang suami istri yang sudah menikah setahun yang lalu. Mereka memintaku untuk menunggu di ruang tamu.
Selagi aku duduk ternyata perutku dengan tidak tahu malunya berbunyi ketika lewat seorang ibu-ibu membawa panci dengan asap yang masih mengepul diatas gerobak dan aromanya mengingatkanku akan sesuatu.
Dikarenakannya itulah yang membuat perutku berbunyi, Iham yang sedang duduk bersamaku hanya memandangku dengan pandangan mengejek sebelum pergi keluar dan membelikannya.
Dengan menggunakan mangkok yang sepertinya terbuat dari tanah liat lengkap dengan sendoknya.
Aromanya sungguh sangat menggugah selera.
Aku mencoba untuk memakannya dan masih dipandangi oleh Iham.
Rasanya mulai mengingatkanku sama bubur ayam.
Selagi aku makan, Dena dan Hilda datang membawa tas dan juga sebuah peta.