Mohon tunggu...
TRI HANDOYO
TRI HANDOYO Mohon Tunggu... Novelis - Novelis

Penulis esai, puisi, cerpen dan novel

Selanjutnya

Tutup

Cerbung Pilihan

Ikrar Sang Pendekar (96): Dari Hati Ke Hati

26 Oktober 2024   05:14 Diperbarui: 26 Oktober 2024   06:46 637
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dokumen Tri Handoyo

Oleh: Tri Handoyo

Salah seorang anak buah Arya Dewandaru disusupkan untuk menjadi karyawan di Padepokan Benteng Nusa. Misi rahasia penyusupan dengan menggunakan orang asli Jombang sendiri.

Namanya adalah Gandung. Lebih mudah lima tahun dibanding Dewan, tapi ia memang pernah mendapat latihan khusus untuk menjadi seorang penyusup. Keahliannya adalah menggali informasi, menciptakan dan memengaruhi opini orang demi kepentingan kelompoknya.

Sejak awal bulan, Gandung yang dijuluki 'Raja Belut' di timnya, berjalan memasuki pintu gerbang Padepokan Benteng Nusa, lalu melamar bekerja sebagai guru pengajar moral dan kepribadian. Lantaran mampu menunjukan berbagai pengalaman yang mengesankan, maka ia diterima bekerja di tempat yang cukup angker bagi mereka yang berniat buruk.

Ramah, suka bergaul, simpatik dan menarik. Itulah Gandung, yang dulu pernah menjadi salah satu anggota penasehat kesultanan Demak. Perjalanannya dari salah satu desa kecil di Jombang sampai ke pusat Pemerintahan Demak sendiri sangat mencengangkan. Tapi kemudian hidupnya berubah selamanya, ketika tertangkap dengan tuduhan sebagai mata-mata Kerajaan Dyah Ranawijaya.

Sebagai agen rahasia, ia berhasil dijebak dan digerebek oleh pasukan intelijen Demak. Pengadilan mengajukan bukti-bukti yang tak terbantahkan bahwa ia telah melakukan serangkaian penyuapan kepada beberapa petinggi kerajaan, sehingga akhirnya bisa duduk di dewan penasehat.

Tertangkapnya Gandung dan jaringannya mendorong Demak melakukan perombakan besar-besaran terhadap pasukan keamanan kesultanan. Gandung dijatuhi hukuman mati, tetapi betapa mengejutkan, beberapa hari sebelum hukuman itu dijalankan, dia telah meloloskan diri dari penjara. Tentu saja semua itu melibatkan jaringannya yang telah menyusup di berbagai lembaga. Itulah kenapa kemudian ia mendapat julukan Si Raja Belut.

Petugas keamanan secepatnya membawa surat perintah penggeledahan di berbagai lokasi yang dicurigai. Walaupun berbagai petunjuk mengarah kepadanya sebagai pemain kunci, namun ia sudah menghilang dari Demak. Mereka tertinggal beberapa langkah. Kisah yang menarik itu tetap terselimuti misteri tak terpecahkan.

Yang membuat pemerintah Demak was-was adalah si mata-mata licin yang menggunakan nama samaran Ghozali itu sudah terlalu sering berada di antara tokoh-tokoh penting kesultanan Demak, termasuk cukup dekat dengan Sultan Trenggana sendiri. Dia dikhawatirkan sudah mengetahui banyak rahasia penting kerajaan. Ini adalah sebuah kisah peringatan tentang keserakahan para pejabat di lingkuangan istana.

Akan tetapi, dalam sidang pengadilan, Gandung alias Ghozali Si Raja Belut itu tetap sulit dipahami. Beberapa saksi menggambarkan kharakternya yang murah hati, penuh belas kasih, religius, dan tampak sebagai seorang yang taat beribadah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerbung Selengkapnya
Lihat Cerbung Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun