Terdengar dialog supir bus dan kondektur tentang keadaan akhir-akhir ini yang membuat mereka susah. Mereka membicarakan soal teman-teman supir yang memilih tidak jalan akibat berkurangnya jumlah penumpang. Setelah dipotong biaya setoran dan biaya bahan bakar, menyisahkan pendapatan yang sangat kecil untuk nafkah keluarga, lalu memilih istirahat.
"Kita jalan saja penghasilan mepet," keluh kodektur, "Apalagi gak jalan!"
"Tambah remuk!" timpal pak supir, "Seberapa pun kecilnya yang kita peroleh, itu masih lebih baik daripada tidak sama sekali!"
"Tapi kalau begini terus, ya lama-lama kita pun akan mampus!"
Aku ikut prihatin mendengarnya. Di tambah menyaksikan di sepanjang jalan banyak warung-warung dan restauran yang tutup. Mereka pun mungkin terpaksa memilih tutup karena berkurangnya pembeli. Covid 19 benar-benar memporak-porandakan hampir semua sendi kehidupan.
Bus berhenti di terminal Anjuk Ladang, Nganjuk. Istirahat sekitar seperempat menit. Mendadak terlihat tiga pemuda dengan pakaian lusuh dan badan penuh tatto, masing-masing memegang alat musik, naik ke atas bus.
Jika supir dan kondektur saja mengeluh dengan kehidupan yang semakin sulit, apalagi para pengamen. Tampak wajah-wajah muram khas rakyat kecil. Tatapan mata penuh pesimisme, yang kadang terlihat sinis saat menatap ke arah penumpang.
Sampai di terminal Solo, aku segera mencari bus jurusan Jogja. Banyak pilihan. Aku langsung naik bus yang sudah siap berangkat.
Satu jam lebih seperempat. Sampai juga akhirnya menginjakan kaki di Jogja. Kota yang sebetulnya cukup sering aku kunjungi, tapi selalu ada perasaan aneh setiap tiba di kota itu.
Dari situ aku mencari informasi bus ke Jakarta. Mereka bilang tidak ada yang berangkat malam. Adanya besok pagi.
Aku memutuskan mau estafet. Naik bus apapun yang penting menuju ke arah Jakarta dan berangkat malam itu. Daripada tidur di penginapan, lebih baik tidur dalam bus. Jelas lebih menghemat biaya.