Ketika Yesus dihukum mati di atas kayu salib di Bukit Golgota atau Kalvari, bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya.Â
Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala, mereka berkata: "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!"
Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata: "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan!" Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya demikian juga. (Bandingkan Matius 27:35-44).
Yesus pun wafat di atas kayu salib, bukan karena Ia mati lemas atau kehabisan darah, tetapi Ia sendiri yang menyerahkan nyawa-Nya ke tangan Bapa-Nya. Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.
Atas tulisan ini, bapak menambahkan sebuah refleksi dari perjalanan hidupnya sendiri yang sudah dia arungi sejauh ini. Saat kelahiran putra pertamanya, saya sendiri, mereka memberi nama Teopilus Suranta.
Dalam nama itu terkandung makna dan doa bapak dan mamak, sura-sura (harapan, dalam bahasa Karo) terbesar mereka adalah agar Tuhan (Teo) menjadi "Teman" (philos). Ada perasaan/penafsiran konteks hidup yang merasa seperti ditinggalkan sebagai latar belakang pemberian nama itu.
Barangkali perasaan seperti ditinggalkan itu ada hubungannya dengan masa-masa sulit saat awal-awal kehidupan keluarga kami. Itu jugalah yang melatarbelakangi mengapa tulisan ini sedikit terkesan dikemas dalam bungkus Teologis.
Manusia diciptakan dari debu tanah. Seluruh makhluk ciptaan saling tergantung untuk hidup, saling  memelihara dan menjaga, karena sepenanggungan. Itu adalah sudut pandang Teologi Ekologi.
Dalam Alkitab, dimuat juga tentang konsep Tahun Jobel, Tahun Pembebasan, Tahun Kasih. Bumi dan isinya memiliki keterbatasan, maka itu di Tahun Jobel, tanah diistirahatkan.
Tanah jangan diusahai dengan apapun, tanah kepemilikan yang tergadai harus dikembalikan kepada pemiliknya, dan orang yang telah menjadi budak harus dibebaskan oleh tuannya.
Hukuman paling berat dari Tuhan adalah "ditinggalkan oleh Nya". Allah tidak peduli lagi, manusia dibuang ke neraka.