Sejak umur 6 tahun aku belajar mengaji. Kata bapak, kitab suci berisi ilmu yang tiada habisnya. Aku rajin mengaji meskipun tidak mengerti artinya. Ketika agak besar, mulai kubuka-buka terjemahan kitab suci. Ternyata tetap saja aku tak mengerti. Tapi aku masih rajin mengaji. Aku hanya ingin meniru bapakku. Siapakah orangnya yang tidak meniru bapakku, orang yang alim dan dihormati penduduk kampung?
Dulu aku sering bertanya macam-macam tentang agama. Bapak menasihatiku, tidak pantas mempertanyakan ajaran Tuhan yang amat mulia dan sempurna. Itu sama dengan menghina agama. Sejak peristiwa dengan Bu Aisha, aku percaya penuh pada bapakku. Kata-kata bapak adalah kebenaran. Aku harus mengikutinya.
* * *
Umurku sekarang 30 tahun. Bapakku sudah mati bertahun-tahun lalu. Akulah sekarang penggantinya sebagai ustadz kampung. Aku telah mewarisi ilmu-ilmu agama bapakku. Penduduk tak kuasa menolakku.
Anak-anak mengaji di mushola di bawah bimbinganku. Aku mengajar mereka sebagaimana bapakku dulu mengajariku. Rotan panjang kubawa. Selalu ada anak yang kena sabetanku. Anak-anak menangis kesakitan. Tapi tangis tak menghentikanku, tak akan pernah. Itu malah membuatku marah. Kupukul lagi mereka berkali-kali. Akhirnya memang berhasil. Mereka semua diam, patuh mendengarkanku. Persis waktu aku seumur mereka. Bapakku memang benar, bapakku selalu benar.
Ketika masih hidup Bapak pernah berkata, “Penjahat-penjahat itu bisanya cuma mengotori dunia.” Sejak itu aku pun geram pada semua makhluk berlabel penjahat.
Pernah seorang pencuri ayam ketahuan dan kutangkap.
“Ampun, Pak...!” pintanya gemetar dan memelas. “Anak saya sakit di rumah. Saya butuh uang mengobatkan anak saya, Pak.”
Tubuhnya kurus kering, uban bermunculan di antara riap-riap rambutnya. Matanya sayu, berkaca-kaca. Tangannya menangkup di dada, menyembah-nyembah, mencium kakiku. Tetangga mulai berdatangan.
Itulah saat kulaksanakan ‘titah’ bapakku. Kuhujamkan bogem mentah ke wajahnya. Dia mengaduh kesakitan, lalu merintih menyayat telinga. Aku tak peduli. Kupukul dia berkali-kali hingga darah mengucur dari hidung, bibir, dan pelipisnya. Tanganku mulai berlumuran darahnya. Beberapa percik darah mengotori bajuku. Kedua matanya lebam kehitaman. Aku masih belum puas, kuhajar terus pencuri itu hingga aku kelelahan. Aku tak peduli tatapan para tetangga yang ngeri. Waktu polisi datang, nafasnya tinggal satu-satu. Kelihatannya mau mati. Puas rasanya menyingkirkan satu penjahat dari muka bumi.
Para pezinah juga tak luput kuhajar, tak peduli perempuan atau lelaki. Mereka tak ubahnya orang ‘Aad di zaman Luth. Mereka dikutuk Tuhan.