Sejarah maritim dijadikan salah satu solusi untuk mewujudkan integrasi masyarakat Indonesia karena sejarah maritim memiliki bidang penelitian yang luas dan berkaitan dengan komunikasi lintas budaya. Komunikasi lintas budaya inilah yang menjadi dasar dari proses integrasi masyarakat Indonesia. Hal ini terjadi karena komunikasi lintas budaya melalui saluran transportasi laut dan perdagangan.
Pada bagian bab II dijelaskan tentang datangnya nenek moyang bangsa Indonesia yang dijabarkan lebih dalam mulai dari 1) Sejarah lingkungan alam Indonesia, dan 2) Asal usul nenek moyang bangsa Indonesia (Zaman Purba, Zaman Modern). Penjelasan yang ada di bab II ini sangat mendetail mulai dari Zaman Paleolitikum hingga Zaman Modern lengkap dengan detail kebudayaannya. Fokus pembahasan pada bab II kemudian dilanjutkan pada poin perhubungan laut dan komunikasi antar kelompok sosial.
Pada poin perhubungan laut dan komunikasi antar kelompok sosial kembali ditekankan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah bangsa Austronesia yang kedatangannya di kepulauan Nusantara ini telah berlangsung sejak 2000 tahun sebelum masehi. Masa kedatangan mereka itu termasuk dalam jaman neolitikum yang memiliki dua sub kebudayaan dan 2 jalur penyebaran. Pertama, cabang kapak persegi yang penyebarannya berawal dari daratan Asia melalui jalur Barat, dengan kebudayaan bangsa Austronesia. Kedua, kebudayaan kapak lonjong yang penyebarannya melalui jalur Timur, dengan kebudayaan bangsa Papua-Melanesoide.
Isi pembahasan pada Bab III buku ini menjadi bagian yang memberikan penjelasan tentang kerajaan-kerajaan maritim di Indonesia. Adapun kerajaan-kerajaan maritim Indonesia yang dijelaskan dengan cukup detail pada bab ini adalah sebagai berikut,
a) Â Â Â Â Kerajaan Sriwijaya
b) Â Â Â Â Kerajaan Melayu di Sumatra
c) Â Â Â Â Kerajaan Samudra
d) Â Â Â Â Kerajaan Majapahit
e) Â Â Â Â Kerajaan Malaka
f) Â Â Â Â Kota-kota maritim di pantai utara Pulau Jawa (Tuban, Gresik)
g) Â Â Â Â Kerajaan Demak