Lisa termasuk gadis yang sabar. Ia tidak malu ikut membantu berjualan. Teman-teman di sekolahnya banyak yang menjadi pelanggan tetap di warung kami. Bahkan, guru-guru dan staf karyawan di sekolahnya sering mampir ke warung kami.
Setiap pulang sekolah, Lisa segera membawakan makan siang buatku. Ibu yang memasak di rumah. Dengan pembagian tugas seperti itu, kami selalu merasa saling membutuhkan. Â
===
"Kakak sedang melamun, ya?" ucap gadis itu.
Dengan cekatan, kulihat Lisa ambil cangkir besar untuk membuat dawet sendiri. Setiap hari selalu begitu.
"Haus betul, Kak, hari ini. Tadi pulang sekolah saya tidak sempat minum di rumah. Habis makan langsung disuruh Ibu ke sini. Takut kakakku yang cantik ini kelaparan," tutur Lisa sambil melirik ke arahku.
"Gombal," ucapku seraya membuka tutup rantang paling atas. Aroma lauk ikan goreng menyeruak. Hidungku benar-benar merasakan kenikmatan. Rasa lapar bertambah kuat. Dengan terburu-buru aku angkat rangtang pertama. Sayur berkuah terlihat menggoda pada rantang yang kedua. Selanjutnya, saya angkat rantang kedua untuk menemukan nasi yang berada pada rantang ketiga.
"Tadi ada lagi laki-laki mata keranjang," tuturku sambil menuangkan sayur pada rantang berisi nasi.
Lisa menatapku agak lama. Cangkir besar berisi es dawet yang dipegangnya ia letakkan di atas kursi. Sementara aku mulai memasukkan nasi ke dalam mulut setelah membaca doa dalam hati.
Adikku sangat marah bila ada laki-laki yang mau kurang ajar kepada diriku. Beberapa kali Lisa membentak-bentak lelaki yang berusaha mau berbuat jahil kepadaku. Awalnya hanya berbicara agak jorok, kemudian berusaha menyentuh tanganku.
Lisa langsung ambil sapu di sudut warung dan mengangkat tinggi-tinggi serta berseru.