Semua rasa menyatu. Semuanya pecah dalam satu waktu yang sama.
Seseorang berbisik, "Hai, ada apa denganmu?"
Suara itu mengagetkanku. Aku rasa hanya sendirian di ruangan ini.
Ternyata ada makhluk lain yang sedari tadi memperhatikan kesedihanku. Bukan hanya saat ini. Tetapi, selama ini.
Suara itu dibiarkan saja. Diabaikan tanpa rasa kepedulian. Padahal ia hadir penuh kepedulian.
Suaraku semakin parau. Napas yang semakin terasa berat.
Ia kembali berbisik, "Hai, kontrol dirimu! Biarkan aku membantumu!"
Hati ini tergerak untuk mengikutinya. Seolah terhipnotis untuk menuruti ajakannya. Toh tak ada lagi yang bisa dilakukan. Selain kembali berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
Sebuah mantra penenang terdengar di telinga. Seketika mulut ikut melafalkan mantra yang serupa.Â
Berulang kali mantra itu terucap. Memberikan kesejukan hati meski entah hanya berlaku sampai kapan. Mungkin hanya sementara. Bisa juga memang sebagai obat mujarab kala itu.
"Sudah lebih tenang?"Â tanyanya.