Mohon tunggu...
Novita Nurfiana
Novita Nurfiana Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Eccedentesiast, ichthyophobia, gamophobic, Cynophobic

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Kenangan

15 September 2014   18:47 Diperbarui: 18 Juni 2015   00:38 73
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Tidak ada satu manusia pun yang tahu ke mana nasib akan membawanya, sesaat kita tertinggal di hamparan masa lalu, terus seolah terpental kembali ke masa kini, ajaibnya dalam hitungan detik.

Sesaat aku terperangkap di medan magnet angan-angan, lalu kini terjerembab pada kenyataan yang sama sekali berbeda, membuatku trauma dan sekali lagi enggan meninggalkan kenangan merajut mimpi tanpa benang, karena sesungguhnya aku tahu impian itu tak akan pernah mencapai titik pemenuhan.

Kupandangi lagi kebaya putih di lemariku, kebaya yang seharusnya menjadi kostum di hari pernikahanku nanti, menggantung berdampingan dengan kebaya ungu yang kukenakan di hari wisudaku, setelah lulus menempuh pendidikan di universitas. Kebaya putih itu adalah salah satu benang kenangan yang tak pernah bisa kuurai dari rajutan hidupku, benang kusut yang tak jua beranjak dari masa lalu.

….

Dia laki-laki yang baik, itu kesan pertamaku saat mengenalnya. Kawan baru di universitas yang menjadi tempatku menuntut ilmu, kawan dari pulau seberang yang membuatku terbiasa dengan kehadirannya. Kawan yang lalu mengajakku merajut benang angan-angan menjadi rencana masa depan yang katanya ingin dijalaninya bersamaku.

Dua tahun lebih kami menjalin benang warna-warni menjadi impian dan angan berbentuk abstrak namun terlihat pasti. Namun dua tahun pula kujalani hubungan dengannya tanpa perasaan yang jelas bisa kugambarkan. Bagiku dia lebih dari seorang sahabat, kawan yang menyenangkan, terkadang bagai seorang kakak lelaki yang menyayangiku, terkadang bagai seorang ayah yang melindungiku dari tatapan liar lelaki, namun di satu sisi juga sama saja dengan lelaki lainnya yang suka menelanjangiku dengan tatapan matanya.

Dua tahun hubungan kami, tak pernah sekalipun bibirku diciumnya, selalu puncak rambutku yang menjadi sasarannya, sambil mengacak lembut rambutku dan bisikan selamat malam selalu menutup pertemuan kami. Pesan singkat penuh sayang, dan panggilan-panggilan telepon singkat hanya sekedar menanyakan kabarku hari itu. Jalinan itu memberiku janji masa depan, walau jika ditanya apakah aku cinta, masih kujawab dengan kata “entahlah”.

Orang tua kami membicarakan pernikahan, hal asing yang tidak pernah sekalipun mendarat di pikiranku, ide yang menurutku masih akan terlalu jauh bagiku untuk dilaksanakan, namun sepertinya tidak bagi para generasi tua, usiaku baru 20 tahun saat itu, dan pernikahan adalah hal yang jauh dari bayanganku.

Semua hal mereka persiapkan, orang tua kami merajut mimpi tentang hidup anak-anaknya, melibatkan banyak sanak keluarga, padahal bahkan dalam pikirku, belum tentu kami berjodoh, belum tentu dia memang untukku. Kebersamaan kami selama ini hanya berdasarkan rasa terbiasa, aku terbiasa dengan keberadaannya yang melindungiku, dan kurasa dia memang terbiasa melindungi seseorang. Itu yang membuat kami bertahan selama dua tahun.

Tapi toh tindakan mereka itu memberiku euforia, khayalan yang seolah pasti memberiku garansi, kebersamaanku dengannya akan abadi. Kebersamaanku dengannya akan berakhir pada ikatan suci, walaupun sekali lagi, bahkan aku tidak tahu apa aku mencintainya.

….

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun