Gajah Para mengambil nafas dalam-dalam dan berusaha keras menenangkan dirinya. "Kapan dia melakukan Dik? Apakah setiap hari saat kamu ke sana?"
"i.. iya mas..."
"Tolong jawab jujur Dik, apa dia memaksamu?"
Ken Endok tidak menjawab. Suasana seolah menjadi hening, hanya terdengar suara isak tangis Ken Endok.
"Apa dia memaksamu Dik" sekali lagi Gajah Para bertanya.
Ken Endok sepertinya tidak mampu menjawab. Hanya tangisnya terdengar semakin menjadi di dada Ibunya.
"Baiklah kalo kamu tidak mau menjawab. Aku bisa memahami," kata Gajah Para. Dia merasakan tubuhnya lemas lalu menyandarkan punggungnya. Kepalanya menengadah dan matanya berkaca-kaca menatap kosong langit-langit rumahnya. Dia mencoba faham bahwa dirinya belum sembuh dari impotensi yang di deritanya. Tapi bukankah Ken Endok tahu bahwa dia tidak pernah berhenti untuk mencoba? Lalu dia melanjutkan, "Lantas maumu apa sekarang?"
"Nak Para...," ibu Ken Endok menjawab pelan, "Nak Para pasti tahu sifat ayah Ken Endok dan juga pergunjingan orang-orang desa kita ini jika semuanya terbongkar."
"Iya Bu, lalu apa yang Ibu minta dari saya?" jawab Gajah Para tanpa melihat Ibu Ken Endok.
"sebagai Ibu Ken Endok, biarkan saya sujud memohon pada Nak Para."
"Tidak usah Bu, katakan saja..." Gajah Para masih tetap memandang langit-langit tanpa menoleh sedikit pun pada Ibu Ken Endok.