Kelas ini dan mereka semua bagiku adalah aset yang sangat berharga, pada masing-masing mereka tersimpan harapan-harapan besar, mimpi-mimpi besar yang kelak akan terwujud dengan cara merka masing-masing. Di kelas ini dan bersama mereka jugalah aku sadar bahwa ilmu ku belum seberapa dan pengabdianku juga belum ada apa-apa bila dibandingka dengan guru-guru seniorku yang sudah lama menjalani dan merasakan lika-liku kehidupan sebagai seorang guru, sungguh aku belum ada apa-apanya.
Namun dari kelas ini dan mereka jugalah aku yakin, bahwa satu orang dapat kembali menghidupkan suatu bangsa. Maksudnya adalah, semut mengajarkan bahwa seseorang tidak boleh terlepas dari usaha pribadinya. Kemudian mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Ya, inilah yang dilakukan semut saat menghadapi masalah. Misalnya, kaki dan langkah manusia tentu menjadi ancaman berbahaya bagi semut karena bisa mati terinjak. Lalu kemudian akhirnya menikmati proses dan tidak mengharapkan hasil. Semut telah memberi contoh tentang nikmatnya berfokus pada proses, bukan pada hasil. Mereka punya energi atau kekuatan untuk mengerahkan segala upaya, maka kekuatan ini sebetulnya merupakan anugerah yang harusnya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Bila merasa tidak puas pada hasilnya, maka ada kekurangan pada proses ikhtiar.
Terima kasih sekolah, jurusan dan kelas ini yang sudah menjadi inspirasi kebaikkan ku selama ini. Sungguh aku akan sangat merindukan kalian. Salam teruntuk semut merah yang ada di dinding sekolah.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H