Semenjak saat itu, Fitri selalu memaksa untuk terus berlatih agar bisa menang di tingkat provinsi. Hingga dia melupakan segalanya. Fitri hanya memikirkan cara agar dia bisa menang. Fitri tidak pernah menikmati hari-harinya. Melewatkan semua yang seharusnya dia dapatkan di hari ini di dunia anak.
"Haah! Kenapa ya aku ga bisa jawab soal latihan persiapan lomba dari bu guru," keluh Fitri. "Tadi aku juga cuma dapat nilai pas pasan karena ulangan dadakan. Tugasnya banyak banget lagi," sambungnya.
"Fitri...ingat gak kata Ali bin Abi Thalib 'jika sesuatu yang kita senangi tidak terjadi, maka senangilah yang terjadi.' Jadi....kamu gak boleh mengeluh gitu dong," nasehat Jasmine.
"Haduh.... Jasmine, kalau prinsip kita kayak gitu terus. Kapan kita bisa berhasil ? Gimana kalau aku ga bisa menang lomba tingkat provinsi ?" Tanya Fitri dengan perasaan kesal.
"Fitri.... Kamu bisa bantu aku gak ? Tolong ajarin aku tugas yang ini. Aku kurang ngerti soalnya," kata Jasmine suatu hari.
"Gak, ga bisa Jasmine. Maaf ya aku lagi sibuk dan fokus buat lomba, jadi jangan ganggu aku. Kamu kerjain aja sendiri," jawab Fitri.
Lama kelamaan persahabatan mereka mulai renggang. Karena Jasmine merasa kesal dengan tingkah laku Fitri yang sering berlebihan. Jasmin lebih memilih berbicara denga kucing liar di bawah mejanya.
"Fitri.... Kamu ga boleh maksain diri terus Fitri. Kamu harus bisa menikmati yang kamu dapatkan di hari ini Fitri," ujar Jasmine mulai kesal.
"Haduh....kamu kenapa sih, Jasmine. Jangan halang-halangin aku terus. Harusnya sebagai sahabat kamu mendukung biar bisa menang, bukan ngehalang-halangin," kata Fitri dengan kesal.
"Bukan gitu maksud aku Fitri," kata Jasmine mulai marah.
"Haah.... Udahlah!" kata Fitri dan langsung pergi. Mendengar perkataan Fitri, Jasmine merasa sangat bersalah.*