" Siapa yang sedang bercanda wahai istriku buna sari. Aku serius mengenai ini"
" Terserah kau lah, susah omong dengan orang pintar" keluh buna sari sebelum meninggalkan mar doyot dengan pemikiranya yang terbalik itu.
Buna sari sebenarnya mengatakan bahwa mar doyot adalah 'bodoh' tetapi kebodohan mar doyot tidak sampai menalarnya demikian.
Mar doyot tetap melanjutkan kebiasaanya. Menyeduh kopi dan sebat sambil membaca buku, walau pisang goreng buatan buna sari tidak ikut menemani lagi. Buna sari sendiri kini sibuk dengan kue-kuenya dan sendirian mengantarkan dagangan kerumah-rumah, kadang juga dibantu ojek.
Mar doyot akan menyambut kepulangan buna sari dari teras rumah dengan ramah dengan imbuhan puisi tentang pengorbanan cinta. Buna sari akan dingin saja sambil terus berlalu kedalam rumah melanjutkan pekerjaan sebagai istri.
" Aku telah menulis 300 cerpen dan aku akan kirimkan ke penerbit" kata mar doyot setelah perutnya kenyang.
Buna sari tidak menyauti omongan mar doyot dan tetap membereskan meja makan dengan gerakan tangan cepat solah-olah jijik dan segera ingin kabur.
" Tebak apa yang akan membuat cerpen ini meledak?" Tanya mar doyot. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya tidak butuh jawaban. Hanya trik lama untuk memancing perhatian buna sari.
" Satu-satunya yang dapat membuat cerpenmu meledak adalah bubuk mesiu suamiku" Buna sari tergoda untuk menanggapi kekonyolan suaminya itu.
" Tidak, tidak, tidak. Bukan itu sayang"
" Aku telah mencantumkan nama pena pada cerpen-cerpen yang ku kirimkan, itu yang akan membuatnya meledak"
Buna sari kembali diam dan tetap beres-beres: Kali ini, ditatanya piring berjejer setelah selesai dilap kering. Buru-buru cuci tangan dan segera meninggalkan dapur.