Mohon tunggu...
Piccolo
Piccolo Mohon Tunggu... Hoteliers - Orang biasa

Cuma seorang ibu biasa

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen: Nama Perempuan Hebat Itu Dahayu

7 Mei 2020   01:24 Diperbarui: 7 Mei 2020   01:32 263
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Mbak, ini ada tiga botol sodium valproate untuk Nada. Ambillah,,, sama sekali bukan untuk membuat Mbak merasa berhutang budi." Esra memberikan plastik berisi obat tersebut ke arah Dahayu.

"Terima kasih, tapi saya sudah menyiapkan obat untuk Nada." Dahayu tak mengrubis pemberian Esra.

Dahayu bergegas menuju klinik. Langkahnya lebih cepat dari biasanya. Dia akan terlambat kalau berjalan pelan.

Wajah Dahayu terlihat begitu bahagia. Plastik berisi tiga botol obat untuk Nada ditentengnya dengan sangat hati-hati. Dia tak pernah tahu sampai kapan kondisi parah seperti ini akan berlalu. Hidup mereka memang sudah sangat susah sebelum pandemic, tapi sekarang semua terasa semakin buruk. Adakah yang lebih buruk dari parah? Dahayu hanya berusaha tabah dan ikhlas menjalani hidupnya. Dia hanya berharap apa yang dialaminya, tak dialami anak-anaknya kelak.

Setibanya Dahayu di rumah, dia langsung meletakkan obat-obat yang dibawa di lemari tempat Nada biasa meletakkan obatnya lalu mencari Alya. Harusnya Alya sudah selesai mencuci di rumah Bu Darman. Tapi Dahayu mendapati rumahnya dalam kondisi kosong, tak ada siapa pun. Dahayu menyusul ke rumah Bu Darman. Tapi Bu Darman bilang Dahayu dan Nada sudah pulang sejak tadi. Dahayu mulai cemas. Dia mencoba mencari kedua malaikatnya itu ke rumah Mbah Maryam. Alya dan Nada tak ada di sana. Dia sudah tak tahu harus mencari ke mana lagi.

Matahari sudah semakin tinggi. Dahayu sudah waktunya berangkat kerja kembali. Sepanjang jalan dia masih terus sambil mencari. Di ujung gang Dahayu berpapasn dengan kedua anaknya. Dan Bram!

"Kalian pulanglah. Tunggu mama di rumah sampai sore nanti. Mama tidak mengijinkan kalian kemana pun." dahayu menghentikan langkahnya. Wajah cemasnya seketika berubah lega. Dan sedikit marah!

Alya dan Nada tak melawan. Mereka mencium tangann Dahayu sebelum melanjutkan langkah mereka.

"Saya sudah bilang,, jangan pernah muncul lagi di hidup kami. Apa pun alasannya!" Mata Dahayu seketika memerah. Bukan karna menangis, tapi karna marah.

"Maaf. Tapi saya,,,,"

Dahayu melanjutkan langkahnya tanpa berusaha memberikan sedikit waktu untuk mendengar penjelasan Bram.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun