"Kamu bukan hantu biasa, Putih," kata Bayu.
"Maksud kamu?" Putih menatap Bayu dengan wajah tidak mengerti.
"Saudari kamu ... siapa pun dia, apakah dia selalu muncul atau menghilang tiba-tiba?"
Putih mengangguk.
"Entah kamu sadari atau tidak, saudari kamu itu sebenarnya adalah jiwa yang lain dari tubuh manusiamu. Dulu kamu hidup dengan dua jiwa, sehingga saat mati, kalian menjadi dua jiwa yang berbeda. Tapi, kalian tidak akan terpisah jauh, karena telah bertahun-tahun terpaut dalam satu tubuh."
Mulut Putih membulat. Ini penjelasan yang paling masuk akal dari pertanyaan yang selalu berkecamuk dalam batinnya selama ini. Â "Kenapa kamu bisa tahu?" tanyanya.
"Ya, karena aku juga sama seperti kamu. Aku pernah dilatih oleh salah satu hantu sepuh penghuni gunung Kilimanjaro untuk mengenali hantu-hantu seperti kita."
Putih mengangguk-angguk pelan.
"Lalu ... di mana Hitam sekarang?" tanyanya.
Bayu mengangkat bahu. "Sedang berada di tempat lain, mungkin. Tapi biasanya saat diperlukan dia pasti muncul, bukan?"
"Benar. Mungkin ini alasan aku merasa langsung nyambung sama kamu, Bayu. Kita ternyata punya nasib sama. Terus, bagaimana dengan kamu? di mana saudaramu sekarang? dan bagaimana karakternya?"