Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Ilmuwan - Sosiolog dan Penutur Kaldera Toba

Memahami peristiwa dan fenomena sosial dari sudut pandang Sosiologi. Berkisah tentang ekologi manusia Kaldera Toba.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Nulla Dies Sine Linea: Kisah Transformasi dari Menggambar ke Menulis

28 Oktober 2024   18:53 Diperbarui: 28 Oktober 2024   21:21 131
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Paus Fransiskus dipeluk dan memeluk seorang anak kecil (Sketsa oleh Felix Tani 28.10.2024)

Sebenarnya kebiasanku menggambar tidak benar-benar pupus.  Sewaktu kuliah, juga setelah lulus, aku terkadang masih orat-oret sketsa di ruang kuliah, ruang seminar, atau ruang rapat.  Itu kulakukan untuk mengusir rasa bosan, jenuh, atau kantuk. Kadang kubuatkan sketsa pembicara seminar atau rapat yang paparannya membosankan.

Beberapa kali ada juga kawan yang minta dibuatkan potret dirinya.  Ya, kubuatkan, lumayan dapat sedikit imbalan untuk nonton bioskop atau jajan bakso. 

Kegiatan sebagai dosen dan peneliti sosial kemudian mengantarku pada kebiasaan baru. Menulis bahan kuliah, laporan penelitian, paper/artikel ilmiah, dan artikel ilmiah populer. Jenis tulisan tersebut terakhir diterbitkan di koran, tabloid, dan majalah berita.

Belakangan hari, setelah pensiun, sebagai strategi belajar seumur hidup aku memusatkan perhatian pada penulisan artikel ilmiah populer.  Tapi kini dengan pendekatan anarkis yang kurang disukai media massa konvensional.  Tidak jadi soal.  Sebab sudah tersedia berbagai platform media sosial yang mengakomodasi artikel-artikel anarkis, sepanjang substansi dan penyajiannya nya logis, etis, dan estetis.

Karena jodoh yang baik, akhirnya aku berlabuh di Kompasiana.com.  Blog kroyokan ini betul-betul mengakomodasi karakter anarkis artikel-artikel ilmiah populer anggitanku. Admin Kompasiana tak mempersoalkan "metoda tanpa metoda", gaya anarkis, yang kuterapkan dalam proses penulisan artikel. 

Kini aku telah bertransformasi dari "penggambar" menjadi "penulis", dengan predikat amatiran.  Tapi sejatinya transformasi itu dalam bentuk saja, dari "gambar" ke "tulisan". Filosofinya tetap sama, "penggambaran mendalam" melalui prinsip "Nulla dies sine linea."

Kegiatan menggambar itu pada dasarnya adalah proses penafsiran mendalam terhadap suatu fakta.  Dengan demikian suatu gambar atau lukisan sejatinya adalah buah penafsiran.  Tafsir itu subyektif sehingga dua orang yang melukis obyek yang sama akan menghasilkan gambar atau lukisan yang berbeda. Kedua orang itu memulai dengan satu garis, tapi tak pernah merupakan garis yang sama.

Kegiatan menulis artikel ilmiah populer, sepanjang pengalamanku sendiri, juga begitu juga.  Aku menafsir data atau fakta obyektif menurut subyektivitasku.  Subyektivitas itu menjadi signature, penanda khas pada setiap artikel yang kutulis untuk Kompasiana.

Kendati sudah menulis 10 tahun (2014-2024) di Kompasiana, aku tetaplah penulis amatiran, bukan profesional.  Aku menulis di Kompasiana bukan untuk mendapatkan bayaran.  Aku menulis sebagai proses belajar seumur hidup.  Syukur-syukur artikel-artikelku memberi manfaat untuk siapa saja yang kebetulan membacanya.

Hasahatan (Akhirul Kalam)

Aku mungkin tergolong orang yang beruntung karena punya bakat (terpendam) menggambar dan pernah mendapat pelajaran menggambar dari Pastor Philippus OFM Cap. di SMP SMCS.  Prinsip menggambar sebagai suatu proses tafsir mendalam untuk menghasilkan suatu pelukisan yang lengkap, dalam arti logis, etis, dan estetis, ternyata berlaku juga dalam kegiatan penulisan artikel. 

Sungguh, nasihat "Nulla dies sine linea" sama berlaku baik untuk kegiatan menggambar maupun menulis.  Keduanya sama-sama kegiatan "penggambaran" realitas, berdasar tafsir mendalam atas makna data atau fakta obyektif.  Bedanya, menggambar adalah "menulis dengan garis-garis" sedangkan menulis adalah "menggambar dengan kata-kata".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun