Puisi “Air Mengalir dari Istana Negara” terletak pada halaman 135 pada buku kumpulan essai dalam puisi karya Tri Budhi Sastio dan bisa dikatakan merupakan puisi yang ada di tengah dalam rangkaian puisi yang ada dalam buku tersebut. Analisis bunyi pada puisi dilakukan pada 3 unsur yaitu irama, kakafoni, dan efoni. Adapun hasil telaah dari ketiganya dapat dilihat sebagai berikut :
- Irama
- Irama yaitu keras lembutnya ucapan bunyi serta pergantian tinggi rendah dan panjang pendek yang disebabkan oleh perulangan bunyi secara berturut-turut dan variatif. Intinya dalam kajian tersebut apabila ada peluang kata dalam sajak maka dapat dipastikan bahwa data tersebut termasuk irama. Kajian irama dapat dianalisis melalui data berikut :
Nusantara, Indonesia adalah negara samudra raya
Dan di sana, anggun bertahta ribuan pulau istimewa,
Bertebaran elegan, ditatah hijau rangkaian permata,
Diikat pita nan indah membentang lintas khatulistiwa.
Samudera kolam hamparan tirta di batas cakrawala,
Walau karena garam, lalu tidak jadi pemuas dahaga.
Konon harus diolah agar enak di lidah, tunggal rasa.
Kutipan puisi “Air Mengalir dari Istana Negara” di atas menunjukkan adanya irama dengan peluang kata yang berturut-turut. Pada setiap baris memiliki akhiran ‘a’ yang menunjukkan adanya irama.
Hal ini menjadi nilai unik tersendiri yang mengangkat puisi ini yaitu meskipun puisi berbentuk narasi dengan gaya modern, namun dalam penyajiannya tetap menggunakan sajak dan berirama.
Pada data di atas kata raya, istimewa, permata, khatulistiwa, cakrawala, dahaga dan rasa pada setiap bait merupakan unsur irama.
- Kakafoni