"Hingga kemudian... ayah dikalahkan oleh seorang anak muda sepantaran ayah saat itu. Dia bernama Danang, putra dari seorang mpu dari perguruan Awan. Perguruan itu sudah lama ayah dengar ketangguhannya.
Danang, adalah salah satu pewaris yang berbakat dari perguruan Awan. Demikianlah yang ayah dengar pada saat itu dari salah satu teman ayah.", lanjut ayah.
"Apakah ayah kemudian sempat bertarung dengan Danang?", tanyaku penasaran.
Ayah mengangguk sambil tersenyum.
"Ya... dan ayah dikalahkan dengan telak...", jawab ayah singkat.
Aku mengerenyitkan dahi.
"Kok bisa yah? Bukankah ayah sudah banyak menguasai ilmu-ilmu pamungkas?", tanyaku semakin penasaran.
"Memang benar nak. Namun ada hal-hal yang ayah belum lengkapi pemahamannya...", jawab ayah.
Aku masih belum bisa memahami maksud ayah.
"Apakah kamu ingin mendengar ceritanya?", tanya ayah.
Aku mengangguk dengan bersemangat. Kisah-kisah, bagiku adalah sebuah pelajaran berharga. Aku memang belum bisa mencapai tahap yang dimaksudkan oleh ayah, namun aku bisa belajar dari kisah-kisah untuk mendapatkan hikmah. Menurut ayah, hikmah itu berserakan dimana-mana, maka tugas kitalah untuk mengumpulkannya. Hikmah bisa saja hadir dalam bentuk kisah, dalam bentuk kejadian, dalam bentuk mimpi, dalam bentuk pengalaman, dan dalam bentuk yang lain. Aku jadi teringat ucapan ayah agar hendaknya aku banyak-banyak mendengar kisah-kisah terutama mereka-mereka yang memiliki keutamaan, sebab hal itu termasuk dari kemuliaan dan padanya terdapat kedudukan da kenikmatan bagi jiwa.