Mohon tunggu...
Sucahya Tjoa
Sucahya Tjoa Mohon Tunggu... Konsultan - Lansia mantan pengusaha dan konsultan teknik aviasi, waktu senggang gemar tulis menulis. http://sucahyatjoa.blogspot.co.id/

Lansia mantan pengusaha dan konsultan teknik aviasi, waktu senggang gemar tulis menulis. http://sucahyatjoa.blogspot.co.id/

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Motif dan Misteri Terbunuhnya Let-Jend. Valery Asapov oleh Mortir "ISIS" di Suriah

1 November 2017   13:25 Diperbarui: 2 November 2017   18:08 5513
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: www.dailymail.co.uk

Saat ini, militer Suriah yang didukung Rusia dan Pasukan Demokratik yang didukung AS (SDF) saling memperebutkan sabuk di tepi timur Sungai Efrat. Untuk jasad letnan jenderal yang terbunuh saat itu berada di dekat Sungai Efrat. Akan sulit bagi Rusia untuk tidak mencurigai AS.

Kematian seorang komandan militer Rusia yang malang ditempatkan di Suriah, Let-Jend Valery Asapov, telah disebut kebetulan, tapi juga sebuah persekongkolan, dengan berbagai kecurigaan di mana-mana. Mengapa penyebab kematian ini menarik perhatian yang begitu besar? Karena semua orang telah melihat bahwa di medan perang Suriah saat ini, aliansi militer yang dipimpin oleh Rusia yang mendukung militer Suriah tidak hanya akan segera mendapatkan kemenangan yang menentukan dalam pertempuran melawan pasukan ekstremis, militer Suriah juga berhasil merebut kembali wilayah yang luas dan terus berlanjut. mengurangi territori oposisi. Jadi Perang Saudara Suriah sudah mendekati akhir.

Dan kali ini, Let-Jend Valery Asapov yang unggul, yang secara pribadi merencanakan dan mengawasi langsung, jadi dia dalah tokoh penting bagi aliansi Rusia dan koalisi pimpinan AS.

Memasuki tahun 2017, militer Suriah yang didukung Rusia terus berhasil merebut kembali wilayah yang diduduki oleh pasukan ekstremis di bawah perencanaan dan panduan Let-Jend Asapov, dan pada saat yang sama AS meningkatkan dukungan senjata kepada militan oposisi dan memperluas serangan militernya.

Perang Suriah kemungkinan hanya akan berlangsung dua atau tiga bulan lagi dan akan berakhir. Siapa pun yang menempati wilayah lebih akan memiliki posisi yang lebih menguntungkan dalam proses politik setelah perang.

Serangan Militer AS Terhadap Militer Suriah

Beberapa tahun yang lalu, AS diam-diam menyerahkan senjata ke pihak oposisi atau mentransfer senjata ke negara lain. Seiring situasinya berubah, itu membuat situasi pertentangan di Suriah menjadi lebih memburuk.

Pada 9 Mei lalu, Presiden AS Donal Trump menyetujui sebuah rencana untuk mengirim pasokan senjata kepada militan Kurdi di Suriah yang dikenal dengan Unit Perlindungan Rakyat. Dan pijakan utama "ISIS" berada di timur, dan militan Kurdi juga melaju cepat ke arah timur. Mereka sekarang mulai bersatu dengan militan suku Arab. Kemungkinan besar Amerika telah memberikan beberapa dukungan senjata kepada militan suku Arab.

Juga, mereka telah memberikan sebuah janji politik bahwa wilayah ini akan dibagi di antara militan suku Arab dan militan Kurdi, masing-masing menempati setengahnya. Militer AS masih secara berkala melakukan serangan militer terhadap militer Suriah, untuk mengganggu, memperlambat dan bahkan melemahkan serangan aliansi pimpinan Rusia pada kelompok ekstremis.

Pada 6 April lalu, AS meluncurkan 59 rudal jelajah Tomhawk menghancurkan 44 sasaran di sebuah bandara militer Suriah. Pada 18 Juni, sebuah jet tempur AS,  F/A-18 Super Hornet menembaki sebuah jet tempur Suriah di sebelah selatan Tabqa. Selain itu, militer AS melakukan beberapa serangan udara terhadap pasukan darat dan kendaraan militer Suriah.

Ketika AS menyerang Mosul, mereka juga menggunakan kebijakan/taktik mengepung sekitarnya dan membiarkan satu sisi terbuka. Mereka mengepung dengan bentuk tapal kuda mengelilingi di tiga sisi dan membiarkan satu sisi terbuka. Dengan mengelilingi Mosul dari timur, utara dan selatan, dan terus maju ke barat. Dan terus mendesak dan memaksa teroris "ISIS" yang berbasis di Irak dan Mosul untuk digiring ke Suriah. Tujuannya untuk lebih menekan Suriah. Jadi ketika menyangkut masalah menanamkan pengaruh AS di medan perang, AS tidak hanya meningkatkan kontrol atas Irak, pada saat bersamaan, mereka juga harus mempertahankan lingkup kekuasaannya sendiri dalam skala besar di Suriah, terutama dengan dukungan oposisi anti rezim al-Assad.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun