4. Modul 1.4. Budaya Positif.
Upaya menumbuhkembangkan kepemimpinan murid haruslah didukung oleh lingkungan. Lingkungan tersebut harus mendukung perkembangan potensi, minat dan profil belajar murid terutama kekuatan kodrat pada anak-anak. Ibarat petani, guru hendaknya dapat mengoptimalkan sumber daya lingkungan yang positif dan mengembangkan budaya positif agar anak-anak dapat tumbuh sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman dan mendukung program yang berdampak pada murid.
5. Modul 2.1 Pembelajaran Untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid.
Satu hal yang kadang membuat seorang guru pusing di dalam kelas adalah bagaimana melayani peserta didik yang memiliki karakter dan tingkat pemahaman yang heterogen. Konsep pembelajaran berdiferensiasi sangat membantu guru dalam situasi seperti ini.Â
Guru dapat menggunakan pembelajaran berdiferensiasi untuk memberikan layanan pembelajaran yang berpihak pada murid. Pembelajaran berdiferensiasi ini merupakan solusi atas beragamnya karakteristik dan kecerdasan murid. Sebelum merencanakan pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru hendaknya melakukan pemetaan terhadap kebutuhan belajar, minat dan profil belajar murid. Hal ini dilakukan untuk mengetahui aset atau kekuatan yang dimiliki oleh murid.
6. Modul 2.2 Pembelajaran Emosional dan Sosial.
Guru bukan hanya mendidik seorang peserta didik agar cerdas secara inteltual, tetapi juga harus cerdas secara sosial dan emosional. Karena itu, guru dilatih dan diasah untuk mampu mengembangkan kompetensi sosial pada diri murid. Teknik kesadaran diri (mindfulness) menjadi strategi pengembangan lima kompetensi sosial emosional yang didasarkan pada program yang berpihak pada murid dan mewujudkan merdeka belajar dan budaya positif di sekolah.
7. Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik.
Persoalan umum yang dihadapi dan dikeluhkan tanpa berusaha mencari solusi adalah saat menghadapi peserta didik yang bermasalah. Coaching sebagai teknik atau strategi seorang pemimpin pembelajaran untuk menuntun anak dan menggali potensi yang dimiliki oleh anak. Coaching juga memberikan keleluasaan anak-anak berkembang dan menggali proses berpikir. Dalam pengelolaan program yang berdampak pada murid, coaching dapat digunakan sebagai strategi untuk mengembangkan sumber daya murid, mengembangkan kepemimpinan murid, menggali potensi murid untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu keselamatan dan kebahagiaan anak setinggi-tingginya.
8. Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berdasarkan Nilai-Nilai Kebajikan Seorang Pemimpin.
Guru adalah seorang pemimpin. Pemimpin selalu identik dengan pembuat keputusan atau kebijakan. Guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat mengambil keputusan secara bijak, yaitu keputusan yang berpihak pada murid. Dasar, prinsip, paradigma atau nilai dalam pengambilan keputusan harus konsisten, terutama berkaitan dengan dilema etika atau bujukan moral.